Melampaui Satu Jalan: Tentang Potensi, Kemerdekaan, dan Kesadaran Berilmu



Di dunia yang sering mendiktekan pilihan tunggal—jadi ini atau itu—aku memilih untuk percaya bahwa manusia tak ditakdirkan sekadar menjadi spesialis dalam satu lorong gelap. Manusia adalah ruang terbuka, semacam semesta kecil yang bisa merangkai cahaya dari banyak bintang: kebijaksanaan, kepekaan, keterampilan tangan, dan keberanian berpikir berbeda.


Potensi sejati hanya tumbuh dalam ruang yang memberi napas pada kemerdekaan. Menekan potensi dalam nama “efisiensi” atau “standar kompetensi” bisa menjadikan seseorang patuh, tapi tak selalu utuh. Ia tahu cara menjawab soal, tapi belum tentu paham bagaimana merasakan soal kehidupan.


Ada yang berkata: orang bijak harus menjadi hakim, yang taat hukum harus menjadi polisi, yang pandai dengan kerajinan harus menjadi kritikus atau pengrajin semata. Tapi aku percaya, manusia bisa menjadi semua itu sekaligus—karena ilmu bukan domain yang saling meniadakan, tapi ekosistem yang saling menghidupkan.


Ilmu itu kontekstual. "1 + 1 = 2" bisa benar dalam sistem desimal, tapi dalam biner hasilnya "10". Bukan salah—berbeda. Dan dalam perbedaan itu, letak kedewasaan memahami bahwa jawaban bukan hanya satu, melainkan sejauh mana kita paham konteks dan sistem yang melingkupinya.


Jadi ketika aku ditolak karena argumenku terdengar “kurang akademis”, aku tidak melihatnya sebagai kekalahan. Tapi sebagai cermin: bahwa barangkali dunia ini masih butuh lebih banyak ruang untuk pemikiran yang menyulam, bukan mengkotakkan.


Karena pada akhirnya, kompetensi bukan tentang seberapa sempit jalur yang kita pilih, tapi seberapa sadar kita menapaki banyak jalan tanpa kehilangan arah.


---



Komentar