Cita-cita
Aku sudah tak lagi menyebut nama cita-cita.
Bukan karena patah,bukan karena letih,
tapi karena sejak dini
mereka telah menggorok nyali
di meja-meja berdebu yang menjual mimpi
di ruang-ruang sempit yang mengukur harga diri
dari selembar ijazah dan angka-angka—
tanpa pernah menanya:
di mana letak gentarnya suara hati?
Dulu ku ingin jadi montir,
menyentuh mesin,merawat denyut kehidupan.
Lalu ku ingin jadi penyair,
menggenggam kata,menggugat dunia.
Mereka tertawa:
"Itu bukan pekerjaan—hanya hobi
anak kampung yang belum terjajak pasar!"
Maka kupelankan suara.
Kusembunyikan gairah
di balik senyum yang pahit,
di balik tawa yang menggorok jiwa.
Kau harus paham,
bagaimana aku membunuh sedih dengan tertawa,
membungkus marah dengan senyum,
bahwa cinta pun kusampaikan lewat kepura-puraan.
Aku berjalan tanpa jejak,
menyusuri jalan yang bukan pilihanku.
Lalu kau datang.
Bukan bagai hujan,
tapi seperti akar yang merambat pelan.
Kini, bukan cita-cita yang kukejar,
tapi sebuah keyakinan.
Keyakinan yang tegak seperti bambu,
menjalar seperti akar,
menghunjam seperti paku.
Keyakinan yang tumbuh dari matamu,
dari tanganmu yang tak kenal lelah,
dari langkahmu yang tak mau tunduk.
Cita-citamu adalah perlawananku.
Langkahmu adalah revolusiku.
Dan setiap tekadmu,
adalah palu godam yang kusiapkan
untuk menghancurkan tembok-tembok takdir.
Jangan berhenti.
Aku mencintaimu seperti api mencintai oksigen—
membakar,menghanguskan, tapi memberi kehidupan.
---
Ditulis dengan darah dan peluh, untuk mereka yang masih berani bermimpi di tengah sistem yang ingin membunuh imajinasi. Seperti kata Rendra: "Kita mesti berani menghadapi kenyataan, tapi jangan sampai kenyataan itu membunuh keberanian kita."

Komentar
Posting Komentar