BAIK ITU BAIK

وَلِذَلِكَ أَنْتَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا

وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًا

فَاعْمَلْ بِخَيْرٍ كَيْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا

فِي يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا


"Karena itulah engkau, Wahai Anak Adam, dilahirkan dalam tangis, sementara manusia di sekelilingmu tertawa gembira. Maka, beramallah dengan kebaikan, agar di saat mereka menangis di hari kematianmu, engkaulah yang tertawa penuh kebahagiaan."


Syair ini bukan sekadar permainan kata; ia adalah peta navigasi eksistensi manusia. Imam Jalaluddin al-Suyuthi, dalam samudera karyanya, sering mengingatkan bahwa dunia adalah ladang akhirat. Tangisan pertama kita saat lahir adalah nida' ul-wida', seruan perpisahan dari alam ruh menuju ujian fana. Orang-orang tertawa, menyambut kehidupan baru, tetapi sang bayi menangis karena ia tahu telah memulai sebuah perjalanan panjang yang penuh onak. Maka, pesan syair ini adalah sebuah tuntutan etis: bahwa kita harus membalik keadaan itu. Bahwa "kematian" yang ditakuti dunia justru harus menjadi pintu di mana kita, setelah melalui perjalanan panjang berbuat baik (al-'amal al-shalih), disambut dengan tawa kemenangan.


Sebuah Kritik atas Tawa Duniawi


Renungan ini mengajak kita untuk mempertanyakan: tawa macam apakah yang kita kejar dalam hidup ini? Apakah tawa yang bersumber dari harta berlimpah, pujian manusia, atau kekuasaan? Tawa-tawa semacam ini, dalam pandangan Imam Al-Ghazali, adalah ghurur (tipuan). Ia bagaikan tawa orang yang sedang bermimpi indah, tanpa sadar bahwa pagi akan segera tiba dan mimpi itu pun sirna. Tawa sejati adalah tawa yang datang dari ketenangan jiwa (ithmi'nān al-qalb), dari keyakinan bahwa kita telah memenuhi panggilan hidup yang sesungguhnya.


Menyelami Samudera Naluri Kebaikan


Renungan ini membawaku pada sebuah kesadaran: hidup ini dinamis bagai lautan, dan hati manusia adalah kapalnya, diselubungi oleh ribuan sebab dan akibat. Namun, di tengah segala kerumitan itu, yang hakiki ternyata sederhana: berbuat baik. Sebagaimana dikatakan seorang bijak, "Jika baik itu memang baik, untuk apa lagi mencari alasan?" Kebaikan adalah hukum alam itu sendiri, fitrah yang primordial.


Bukankah kita sering melihat, bahkan seorang perampok atau bandar narkoba sekalipun, bisa memiliki naluri untuk berbagi dan melindungi orang yang dicintainya? Ini menggelitik pertanyaan mendalam: apakah berbagi dan bermanfaat itu memang naluri asali manusia? Apakah pada dasarnya, manusia itu baik?


Dalam khazanah tasawuf, ini adalah jejak Ruhullah yang ditiupkan ke dalam diri setiap insan. Ia adalah suara hati nurani (al-qalb as-salim) yang selalu berbisik menuju kebenaran, meski seringkali dikalahkan oleh nafs dan godaan duniawi (ad-dunya). Ibn 'Arabi dalam Fusus al-Hikam menyebutnya sebagai "cahaya Ilahi yang tak pernah padam dalam sanubari manusia." Inilah mengapa, di saat-saat genting, naluri untuk menolong sering kali muncul spontan, bahkan pada orang yang kita anggap "jahat." Mereka bukan monster tanpa hati, melainkan manusia yang hatinya telah tertutup oleh lapisan-lapisan dosa dan kesalahan pilihan.


Keadilan: Medan Perang yang Paling Pelik


Di sinilah letak ujian terberat: berlaku adil. Keadilan (al-'adl) bukan hanya pada tindakan, tetapi lebih dahulu harus bersemayam di dalam pikiran. Seringkali, tanpa sadar, kita berlaku zalim dalam diam. Kita memilih-milih dalam menilai. Kita menjadikan "benar" dan "salah" sebagai paradoks yang elastis, yang bentuknya tergantung pada suka dan tidak suka.


Lihatlah contoh nyatanya: ketika orang yang kita benci menumpahkan air hingga gelasnya pecah, kita akan memakinya. Kesalahannya tampak membesar, dan kita merasa berhak menghakimi. Namun, ketika kekasih kita melakukan hal yang persis sama, kita berkata, "Tak apa," bahkan dengan lembut membantu membersihkannya. Di sini, "salah" dan "benar" kehilangan bendanya yang mutlak; mereka menjadi bayang-bayang dari relasi dan perasaan kita. Inilah paradoks yang dimaksud oleh para filsuf: bahwa kebenaran sering tertawan oleh subjektivitas.


Berdiri di Tengah Pusaran: Sebuah Jihad Kontemplatif


Maka, di tengah pusaran paradoks ini, komitmenku adalah untuk tetap berada di tengah-tengah lingkaran. Bukan menghakimi dari pinggir, tetapi juga tidak tenggelam dalam arus. Sebuah tekad untuk tidak ikut menjadi jahat, meskipun dunia di sekeliling menjurus ke sana. Sebuah ikhtiar untuk tidak membiarkan pikiran ini terkontaminasi oleh keburukan, bahkan ketika ia hanya berupa bisikan halus. Sebagaimana wasiat Lukman al-Hakim, "Wahai anakku, tahanlah dirimu dari kezaliman, karena kezaliman itu kegelapan di hari Kiamat."


Inilah jihad yang paling halus: membereskan yang di dalam, sebelum mengkoreksi yang di luar. Berdiri di tengah lingkaran, menjadi saksi yang adil bagi diri sendiri, sambil terus berjalan menuju titik di mana tawa kemenangan di akhir perjalanan adalah sebuah kepastian, bukan sekadar angan.


Sebuah Peringatan dari Ruang Hati


Namun, hati ini harus jujur. Komitmen untuk "tidak ikut jahat" sering kali goyah ketika kepentingan pribadi terancam. Kita mudah menjadi "baik" ketika situasi mendukung, tetapi bagaimana ketika kita dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan? Meminjam istilah Buya Hamka, inilah yang disebut zikir penderitaan. Saat di mana iman diuji bukan pada saat lapang, melainkan justru dalam kesempitan dan kepahitan. Di sinilah letak kritisnya: kebaikan sejati bukanlah tentang tidak pernah merasakan benci atau marah, melainkan tentang memiliki mekanisme pengendalian diri (mujahadah) untuk tidak membiarkan perasaan itu menjelma menjadi tindakan zalim.


Penutup: Menjadi Manusia Utuh di Kala Dunia Pincang


Akhir kata, syair pembuka tadi mengajak kita pada sebuah refleksi terdalam: hidup adalah proses menjadi. Menjadi manusia yang utuh, yang mampu memaknai tangis dan tawanya sendiri. Yang berani jujur pada paradoks dalam dirinya, namun tidak menyerah kepadanya. Yang percaya bahwa di balik semua dinamika dan paradoks dunia ini, ada satu prinsip yang tak pernah usang: bahwa kebaikan, pada akhirnya, adalah bahasa universal jiwa yang merindukan pertemuan dengan Sang Sumber Segala Kebaikan.


Fa man ya'mal mitsqāla żarratin khairay yarah. Wa may ya'mal mitsqāla żarratin syarray yarah.

"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah,niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)


Wallahu a'lam bish-shawab.

Komentar

Postingan Populer