EMAN-EMAN, KOK JADI SANTRI

 Di dalam rumah pendapa tua yang remang, kami duduk bertiga. Seorang kawan lama, seorang santri Langitan yang baru kukenal, dan aku. Asap rokok menari-nara di antara celah-celah cerita mereka. Mereka bercerita tentang tanah yang merintih, tentang nelayan yang berperang dengan tengkulak, tentang petani yang menjual harga diri demi pupuk bersubsidi. Lalu melayang ke dataran tinggi fiqih, sampai ke lembah-lembah digital yang masih kabur.


Aku diam. Memandang mereka. Di kepala ku bergemuruh pertanyaan: dari mana gerangan manusia-manusia seperti ini datang? Mereka menggantungkan hidup pada sesuatu yang oleh kita sering dianggap "hanya": hanya ngaji, hanya tujuan mulia, hanya ilmu yang bermanfaat. Tapi lihatlah! Mereka justru lebih "jangkep" ketimbang kita yang mengaku modern, yang gelarnya seabrek, tapi jiwa-jiwanya compang-camping.


Lalu kusentil salah satunya. Seorang remaja dengan wajah tenang yang memancarkan kedalaman. "Bagaimana kau bisa seperti ini?"


Dia pun bercerita. Kisahnya membuatku tersedu-sedu di dalam.


Sejak kecil, dia sudah hidup di asrama pondok. Tapi otaknya bukan otak biasa. Di SD, ia sudah melahap buku-buku yang membuat guru-gurunya geleng-geleng. Di SMP, ia masuk kelas akselerasi, berkumpul dengan para jenius kecil se-Pekalongan. Ia menjadi juara kimia dan matematika se-Jawa Timur. Bayangkan! Di ruang kelas tempat orang-orang terpintar sekalipun harus gigit jari, dia tetap yang terdepan.


Aku terperangah. Di kepalaku berkelebat prasangka: anak pondok kan biasanya tertinggal? Ternyata, di balik tembok pesantren, ada anak yang kecerdasannya mampu melampaui mereka yang sekolah di gedung-gedung megah.


Lalu datanglah puncak kisah yang membuatku ingin menangis.


Saat lulus, gurunya—yang selama ini membanggakannya—bertanya, "Mau lanjut ke mana?"


Dengan tenang dia menjawab, "Ke pondok."


Seluruh kelas tercekat. Sang guru, yang tidak menyangka, hampir menjatuhkan papan tulis. Dengan wajah penuh keprihatinan, guru itu berkata, "Apa tidak eman-eman, Nak? Kamu ini pintar, punya masa depan cerah. Kenapa memilih pondok?"


Si anak justru terbelalak. Di matanya berkaca-kaca kebingungan yang pilu.


"Eman-eman?" ujarnya lirih. "Ini aneh. Pondok pesantren adalah konstruksi pendidikan dengan output kebermanfaatan paling efisien di dunia. Mengapa harus eman-eman?"


Di situlah dia sadar. Betapa jurang pemisah yang menganga antara dunia akademis yang dia tinggalkan dengan dunia yang dia pilih. Mereka memandang pesantren sebagai tempat kolot, berisi SDM rendahan, tempat buangan bagi orang-orang yang tak mampu bersaing.


Padahal...


Kini, dia telah menjadi kyai muda. Hafal Al-Qur'an. Hafal kitab-kitab kuning yang tebalnya membuat sarjana bergelarpun mengernyit. Hidupnya dipersembahkan untuk mengajar, membimbing, dan membersamai orang-orang kecil. Ilmunya mengalir deras, menyuburkan tanah-tanah gersang di sekitarnya.


Di sinilah satire itu menganga. Di negeri yang mengklaim diri sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, justru institusi yang melahirkan ulama-ulama—pewaris Nabi—dipandang sebelah mata. Kaum muslimin yang seharusnya menghormati para penjaga agama, justru sering kali mencemooh. Mereka lebih bangga pada anak yang kuliah di luar negeri, meski pulang dengan jiwa yang tercabut dari akarnya, daripada anak yang memilih nyantri dan pulang dengan hati yang penuh cahaya.


Inilah lukisan pilu kita: Islamofobia yang justru bersemayam di hati orang-orang Islam sendiri. Mereka takut pada "kefanatikan" pesantren, tapi diam-diam mengagumi fanatisme pasar bebas. Mereka merendahkan kyai yang menguasai ilmu agama puluhan tahun, tapi percaya buta pada influencer yang baru kemarin sore belajar baca buku.


Maka, biarkan mereka terus memandang pesantren dengan sebelah mata. Biarkan mereka terus menganggap eman-eman. Karena dari sanalah, dari tempat yang mereka remehkan itu, justru lahir manusia-manusia yang tidak hanya pandai menaklukkan rumus-rumus dunia, tapi juga menguasai peta jalan menuju akhirat.


Dan kita? Kita hanya bisa terdiam, menyaksikan ironi negeri ini: membangun menara tanpa pondasi, memuja puncak tapi melupakan akar.

Komentar

Postingan Populer