Aku ingin mengejanya sekali lagi

 


Aku ini saksi bisu. Bukan saksi yang dicatat di berita acara pengadilan, bukan pula saksi yang dianggap sah oleh notaris zaman. Aku saksi yang terpaku di balik kaca, mengepel lantai ingatan dengan kain yang basah oleh peluh dan sirine kota. Melihat orang-orang di sekitarku yang dulu sama-sama berkubang dalam ketidaktahuan kini melangkah gagah. Langkah mereka berirama, seiring detak jam dunia yang mereka taklukkan. Mandiri? Ya. Cerdas? Tentu. Hidupnya berdentang riang bagai rantai sepeda yang baru saja diolesi pelumas mimpi.


Tapi, tahukah kalian? Aku ingat betul. Bahwa sebelum dentang riang itu, yang ada adalah derit. Sebelum gagah itu, yang ada adalah terpincang-pincang. Mereka berdarah-darah. Bedanya, darah mereka tidak tertumpah di atas kertas ujian atau formulir lamaran kerja yang kuisi. Darah mereka merembes di tanah lapang yang asing bagiku: di bengkel motor yang sumpek, di warung kopi yang jadi ruang kuliah alternatif, di perpustakaan desa yang atapnya bocor, di tengah sawah yang disambi untuk merenungkan rumus kimia. Mereka menggigit batu kali, mengunyah besi berkarat, berjuang melahap ilmu yang bagi orang kota mungkin hanya jadi sampah digital. Itu bukan darah simbolik, bukan darah metafora pujangga. Itu darah betulan. Asin. Perih. Melekat di ingatan seperti getah nangka yang susah dihilangkan.


Dan aku?

Aku yakin otakku bisa mengejar.Keyakinan yang kadang menggelembung di tengah malam, lalu pecah menjadi genangan kecemasan di pagi hari. Soalnya, mereka sudah ratusan bahkan ribuan langkah di depan. Bukan karena otak mereka dari baja dan otakku dari sekam. Bukan. Tapi karena waktu mereka tidak dikhianati oleh “lorong-lorong kosong”.


Aku yang terjebak.

Lorong kosong itu bernama:tunggu saja, nanti juga baik. Lorong kosong itu bernama: yang penting ikut arus. Lorong kosong itu bernama: Ah, itu urusan mereka yang punya privilege, kita mah urusan cari makan. Zaman memang tidak jujur. Ia menggiring kita, anak-anak kampung, anak-anak pinggiran, ke dalam labirin yang dindingnya penuh tayangan orang sukses, sementara jalan keluar ditutupi kabut ketidakpastian.


Lihatlah Mas Hasto, yang kukenal dulu. Masa lalunya adalah kolase luka. Bukan luka yang dia pamerkan, tapi luka yang dia bungkus dengan kertas koran bekas, dibawa ke mana-mana. Hidup di masa di mana pilihan begitu sedikit, dan setiap pilihan terasa seperti memilih racun yang mana yang akan diminum. Tapi dia tidak memilih untuk mati rasa. Dia melahap pahitnya itu, mengunyah getirnya, menyaringnya menjadi energi. Sekarang? Dia hidup dengan cerdas, bukan cerdas sok tahu, tapi cerdas yang diam-diam. Rasional, bukan rasional yang kaku, tapi rasional yang masih menyisakan ruang untuk rasa. Berdedikasi, bukan untuk piagam, tapi untuk proses yang diyakininya. Dia membuktikan, darah yang tertumpah di medan yang jauh dari papan tulis dan kurikulum resmi, bisa menjadi pupuk. Pupuk yang menumbuhkan pohon ketekunan yang akarnya menghujam ke bumi tempat ia berdiri.


Atau Mufid Mubarok, kawanku semasa mengaji di pondok. Dulu, kami sama-sama menatap kitab kuning dengan mata berkabut. Tapi sementara aku sibuk mengeluhkan bau kapur barus dan dinginnya lantai, dia justru menyelam ke dalam lautan titik dan koma itu. Dia berdarah-darah di sana. Berdebat dengan dirinya sendiri di malam hari, mempertanyakan taqlid buta, berjuang memahami dalil bukan sebagai hukuman, tapi sebagai cahaya. Darah itu asin, karena bercampur keringat dan air mata kebingungan. Sekarang? Dia ahli kitab yang justru paling profesional dalam ilmu fiqih. Bukan ahli yang hanya bisa berkhotbah, tapi ahli yang menerjemahkan fiqih menjadi etos kerja, menjadi disiplin berpikir, menjadi solusi untuk masalah nyata yang mendera orang-orang kecil di sekitarnya. Pondoknya dulu bukan menara gading, tapi dia telah membangun jembatan dari menara itu ke pasar, ke sawah, ke ruang-ruang rapat yang membutuhkan kejernihan hati dan pikiran.


Kita?

Kita seringkali hanya jadi penonton yang terpesona di panggung kemajuan orang lain.Kita bertepuk tangan untuk kesuksesan Mas Hasto, kita mengangguk kagum pada kealiman Mufid. Sementara, panggung kita sendiri panggung hidup kita lapuk dimakan rayap keraguan. Rayap yang namanya: “Ah, sudah terlambat.” Rayap bernama: “Dasar aku bukan siapa-siapa.”


Zaman ini, saudaraku, adalah kanibal sejati.

Ia tidak makan manusia secara fisik.Ia lebih kejam: ia melahap harapan yang telat bersemi. Ia mengunyah mimpi yang terlena. Ia menyisakan tulang-belulang penyesalan yang akan kita petik satu per satu di usia senja. Aku merasakan gigi-giginya yang tajam. Aku yang terengah-engah di belakang, menghirup debu langkah mereka yang sudah jauh. Debu itu pun terasa seperti abu, abu dari sisa-sisa waktu yang terbakar sia-sia.


Maka, pada kalian yang masih punya waktu walau itu hanya sisa-sisa waktu yang dicuri dari himpitan hidup jangan sekali-kali permainkan detiknya. Jangan kira zaman ini sabar. Ia lapar terus. Ia doyan yang lamban, ia lahap yang hanya bisa mengeluh.


Lihatlah baik-baik: mereka yang berkibar bukan turun dari langit dengan parasut privilege. Mereka membangun dari kubangan. Dari getir yang ditelan bulat-bulat. Dari luka yang dirawat sendiri dengan daun jambu dan kesabaran. Mereka adalah petani yang menanam di tanah gersang, dan kini menuai.


Jika masih ada kesempatan walau sesempit celah pintu, walau selebar retakan di tembok tua seretlah tubuhmu yang lelah itu masuk. Berlarilah. Bukan untuk menyamai mereka, karena perjalanan setiap orang jalurnya sendiri. Tapi berlarilah untuk menyelamatkan sisa hidupmu dari gigit zaman yang semakin rakus. Selamatkan itu untuk anak-anakmu nanti, agar mereka tidak lagi menjadi saksi bisu seperti aku.


Belajarlah!

Tapi jangan hanya dari lembaran kertas yang harganya mahal.Belajarlah dari tanah yang retak, ia mengajarkan ketahanan. Belajarlah dari pasar yang riuh, ia adalah ensiklopedia hidup tentang daya tawar dan survival. Belajarlah dari cerobong pabrik yang menganga, ia bercerita tentang tenaga yang dikeruk dan harga yang tak setara. Ilmu ada dalam keringat buruh bangunan, dalam ombak laut yang menghantam perahu nelayan, dalam raungan mesin yang terus menggiling hari-hari menjadi upah yang pas-pasan.


Kita telat, memang. Iya. Kita sudah ketinggalan kereta. Tapi di luar stasiun, masih ada jalan. Berhenti? Itu sama saja bunuh diri pelan-pelan. Dengan menyerah, kita sedang menggali kubur sendiri, sehari sedalam satu jengkal.


Maju terus. Walau hanya sejengkal. Sejengkal hari ini adalah kemenangan atas sejengkal kemalasan kemarin. Di dunia yang makin gila ini di mana kebohongan dianggap kebenaran, dan kejujuran dianggap keterbelakangan diam bukanlah pilihan. Diam adalah pasokan makanan empuk bagi zaman yang sedang kelaparan. Diam adalah pengkhianatan terhadap sisa darah yang masih mengalir di nadi kita.


Maka, keluarlah dari balik kaca ini. Pecahkan kacanya. Biarkan angin zaman menerpa wajah. Biarkan debu langkah orang-orang di depan kita menjadi penyemangat, bukan menjadi alasan untuk berhenti. Sebab, perjalanan kita sendiri sedang menunggu untuk ditulis dengan darah, keringat, dan kemungkinan—darah yang kita pilih sendiri untuk ditumpahkan, di medan kita sendiri.

Komentar

Postingan Populer