Menembus ruang dan waktu

Manusia sering kali cenderung menolak hal-hal yang sulit dicerna oleh logika konvensional. Namun, jika kita menelusuri hakikat logika—sebagai ilmu berpikir benar dan menarik kesimpulan sah—maka semesta ini sesungguhnya adalah wujud logika itu sendiri yang beroperasi dalam kompleksitas yang luar biasa. Albert Einstein, dengan kaca mata rasionalnya, justru melihat keteraturan semesta sebagai bukti adanya "Tuhan" yang logis, suatu kecerdasan yang melampaui pemahaman manusia biasa. Dalam kerangka inilah, fenomena-fenomena yang tampak mistis atau ajaib sering kali hanya menunggu penjelasan ilmiah yang lebih maju.


Salah satu penemuan paling mengejutkan dalam eksplorasi saya adalah dunia komunikasi jamur dan mikroorganisme. Ilmuwan telah mengungkap bahwa jamur tidak hidup secara terisolasi. Mereka membentuk jaringan simbiotik yang luas di bawah tanah yang disebut jaringan mikoriza. Melalui jaringan hifa (benang-benang halus) ini, jamur saling terhubung dan bertukar nutrisi, sinyal kimia, dan bahkan informasi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komunikasi ini mungkin juga melibatkan sinyal elektrik atau frekuensi tertentu.


Dr. Suzanne Simard, ahli ekologi hutan dari Universitas British Columbia, dalam penelitiannya yang terkenal, membuktikan bahwa pohon-pohon di hutan berkomunikasi dan saling mendukung melalui jaringan jamur ini, yang ia juluki "Wood Wide Web". Jaringan ini memungkinkan pertukaran karbon, nitrogen, air, dan senyawa pertahanan antar tanaman. Yang lebih mencengangkan, sinyal-sinyal peringatan tentang serangan hama atau perubahan lingkungan dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan ini, dari satu pohon ke pohon lainnya, bahkan antarspecies.


Lalu, bagaimana fenomena ini bisa dikaitkan dengan kecepatan yang luar biasa? Di sini kita masuk ke wilayah hipotesis yang menarik. Jika jaringan hifa jamur membentuk suatu sistem terintegrasi yang sangat padat dan luas—mencakup seluruh hutan atau bahkan benua—maka informasi tidak perlu bergerak secara linear seperti paket data di internet kita. Ia mungkin bergerak melalui resonansi atau gelombang frekuensi yang merambat melalui medium jaringan biologis itu sendiri. Dalam fisika kuantum, terdapat konsep "quantum entanglement" di mana dua partikel yang terjerat dapat berbagi informasi secara instan, melampaui batas kecepatan cahaya, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami dalam sistem biologis skala besar. Mungkinkah jaringan jamur memiliki semacam "entanglement biologis" yang memungkinkan penyebaran informasi dengan kecepatan tinggi?


Ini membuka pintu pemikiran yang radikal: alam telah menciptakan internet biologisnya sendiri yang jauh lebih tua dan mungkin lebih canggih dalam hal tertentu. Jika jamur di Nganjuk dapat merespons perubahan di Jawa Barat, itu bukan karena mereka "meramal", tetapi karena mereka adalah bagian dari jaringan hidup yang sangat sensitif terhadap perubahan getaran, kimia, atau elektromagnetik di bumi. Perubahan kontur tanah atau lingkungan bisa jadi adalah respons kolektif organisme tersebut terhadap ancaman atau perubahan kondisi.


Kearifan kuno, seperti tradisi tapa brata atau ritual meditasi dalam budaya Jawa dan lainnya, mungkin secara tidak sadar telah "menyadap" frekuensi alam ini. Dalam keadaan kesadaran yang sangat fokus dan tenang, manusia mungkin dapat meningkatkan sensitivitasnya terhadap getaran halus alam—baik secara elektromagnetik, suara, maupun energi lainnya. Praktik-praktik ini sering kali bertujuan untuk menyelaraskan diri dengan alam semesta. Bukan tidak mungkin bahwa para resi atau petapa zaman dahulu, melalui latihan intensif, mengembangkan kemampuan untuk membaca informasi dari "jaringan alam" ini, yang termanifestasi sebagai firasat, penglihatan, atau pengetahuan jarak jauh yang akurat.


Semesta memang dipenuhi oleh aliran arus informasi yang padat dan rumit, seperti yang disimpulkan. Dari jaringan jamur di tanah, pola migrasi burung, hingga aktivitas magnetik matahari, semuanya terhubung dalam sebuah simfoni data raksasa. Logika semesta ternyata tidak selalu linear seperti matematika dasar kita; ia bisa non-lokal, holistik, dan saling terhubung. 


Dalam konteks pembahasan tentang logika semesta yang saling terhubung, muncul fenomena pengalaman manusia yang seolah melampaui batasan ruang dan waktu. Salah satu contoh yang menarik terjadi pada awal tahun 2000-an, ketika seorang lelaki di sebuah kota di Asia Tenggara (misalnya, Jawa) mengalami suatu keadaan yang sukar dijelaskan. Suatu sore, dalam keadaan sadar sepenuhnya namun rileks, ia menatap kosong keluar jendela kamarnya. Tiba-tiba, alih-alih pemandangan perkotaan yang biasa, visualnya seakan "tergeser" dan melihat suatu ruang yang asing: dinding batu tua yang lembab, sebuah jendela kecil yang terhalang jeruji besi tebal, dan di sudutnya, cahaya kuning keemasan dari sebuah lampu petromax yang memantulkan bayangan-bayangan aneh. Pengalaman ini berlangsung hanya beberapa detik, namun meninggalkan kesan mendalam dan rasa penasaran yang kuat.

Bertahun-tahun kemudian, saat menjelajahi internet, ia secara tidak sengaja menemukan foto sebuah bekas penjara (Stasiun Penjara) dari era Perang Dunia II di Jerman. Jantungnya berdebar kencang. Setiap detailnya cocok sempurna: pola batu pada dinding, desain jeruji jendela yang unik, dan yang paling mencolok, keberadaan sebuah lampu petromax yang bukanlah artefak umum di penjara Eropa yang ternyata didokumentasikan dalam foto sejarah karena digunakan selama masa pergolakan saat pasokan listrik terputus. Padahal, lelaki ini tidak memiliki latar belakang pengetahuan tentang arsitektur penjara Jerman, belum pernah ke Eropa, dan tidak ingat pernah melihat gambar tersebut sebelumnya. Ia terbengong-bengong: bagaimana otaknya bisa membangkitkan gambaran yang sangat spesifik dan akurat tentang sebuah tempat yang secara geografis dan kultural sangat jauh?

Menyelaraskan dengan Kerangka Logika Semesta yang Saling Terhubung

Fenomena semacam ini, sering disebut pengalaman clairvoyance atau remote viewing, secara konvensional ditolak karena dianggap tidak logis. Namun, jika kita mempertimbangkan konsep "jaringan informasi semesta" yang dibahas sebelumnya berbasis pada model Wood Wide Web dan hipotesis pertukaran informasi non-lokal maka kita dapat mulai membangun kerangka penjelasan yang rasional, meski masih spekulatif.

1. Hipotesis Medan Informasi Holistik: Fisikawan teoritis seperti David Bohm mengajukan konsep "tingkat terlipat" (implicate order) realitas, di mana segala sesuatu terhubung dalam suatu keutuhan mendasar. Dalam kerangka ini, informasi tentang tempat, masa lalu, atau bahkan masa depan, tidak hilang, tetapi "tercatat" dalam medan informasi semesta. Otak manusia, dalam keadaan kesadaran tertentu (seperti relaksasi mendalam, meditasi, atau kondisi "flow"), mungkin dapat mengakses secuil dari medan ini secara tidak langsung. Pengalaman lelaki itu bisa jadi merupakan "kebocoran" kecil dari akses tersebut, di mana informasi tentang penjara di Jerman yang mungkin kuat secara emosional atau historis tersambung ke kesadarannya.

2. Neurosains dan Gelombang Otak: Penelitian neurosains menunjukkan bahwa keadaan otak dalam frekuensi theta (4-8 Hz), yang umum terjadi saat meditasi dalam, hipnagogik (saat akan tidur), atau fokus sangat dalam, dikaitkan dengan peningkatan konektivitas dan kreativitas. Dalam keadaan ini, batas antara informasi internal (memori) dan persepsi eksternal mungkin menjadi lebih cair. Mekanisme pastinya belum diketahui, tetapi beberapa ilmuwan berspekulasi tentang peran keteraturan kuantum dalam mikrotubulus sel saraf (teori Orchestrated Objective Reduction oleh Penrose-Hameroff) yang mungkin memungkinkan interaksi dengan informasi non-lokal.

Perspektif Ilmuwan dan Filsuf Islam: Rasionalitas dan Batas Pengetahuan

Peradaban Islam klasik memiliki tradisi panjang dalam mempelajari fenomena psikologis dan metafisik dengan pendekatan rasional-empiris. Filsuf dan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina (Avicenna) membahas secara mendalam tentang jiwa (nafs) dan kemampuannya. Dalam Kitab al-Najat dan Al-Isyarat wa al-Tanbihat, Ibnu Sina berbicara tentang jiwa rasional (al-nafs al-natiqah) yang memiliki daya estimasi (wahm) yang kuat. Daya ini dapat menangkap "makna-makna" (ma'ani) dari realitas yang tidak selalu bergantung pada indera langsung. Ia juga mengakui adanya pengetahuan intuitif (hads) yang datang tiba-tiba dari "Akal Aktif" (al-‘aql al-fa’‘al) sumber pengetahun universal. Bagi Ibnu Sina, pengalaman melihat penjara di Jerman itu mungkin dipahami sebagai jiwa rasional, dalam keadaan khusus, yang "tersambung" dengan Akal Aktif dan menangkap "makna" atau bentuk (surah) dari tempat tersebut.

Jika suatu peristiwa tampak tidak rasional,mungkin yang perlu dipertanyakan bukanlah peristiwanya, melainkan kelengkapan ilmu yang kita gunakan untuk menilainya. Sejarah sains berulang kali membuktikan hal ini: gravitasi, relativitas, dan mekanika kuantum awalnya dianggap "tidak masuk akal" karena melampaui paradigma zamannya.


Pengalaman lelaki yang melihat penjara di Jerman itu bukan sekadar "kebetulan" atau "halusinasi". Ia adalah tantangan epistemologis undangan untuk mengakui bahwa mungkin ada jaringan informasi atau dimensi kesadaran yang lebih dalam yang belum terjangkau oleh metode empiris kita saat ini. Tantangan ini harus disambut bukan dengan dogmatisme skeptis maupun penerimaan naif, melainkan dengan rasionalitas yang rendah hati, terbuka, dan berani menjelajahi wilayah baru.

Semesta ini mungkin penuh dengan keanehan yang logis hanya saja kita belum sepenuhnya memahami logikanya. Seperti kata filsuf sains Carl Sagan: "The absence of evidence is not evidence of absence." Ketidaktahuan kita hari ini adalah lahan subur bagi ilmu pengetahuan esok.

Akhir kata, membuka pikiran terhadap kemungkinan bukanlah mengorbankan rasionalitas, justru itulah inti dari sikap ilmiah yang sejati: selalu siap memperbarui pemahaman ketika dihadapkan pada data baru yang valid. Dengan demikian, kita tidak hanya memuliakan akal, tetapi juga mengakui keluasan misteri semesta yang masih menanti untuk dijelajahi dengan nalar dan rasa ingin tahu yang tak berujung.

Komentar

Postingan Populer