Ngempet iku syukur, syukur iku ngempet.


Di suatu senja yang merangkak pelan, ketika langit mengulum merah dan angin bersenandung rendah, aku teringat pada sebuah masa lalu yang seolah terpotong-potong antara cahaya dan bayangan. Dulu, ketika aku masih menjadi bagian dari sebuah jagad yang bernama "santri", segala sesuatu hadir dalam dua wajah: yang mudah dan yang ekstrem.


Di sana, di bawah naungan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun, proses pendidikan kerap hadir bagai pisau bermata dua. Di satu sisi ia mengasah, di sisi lain ia melukai. Aku ingat betul bagaimana suatu ketika, seorang guru memerintahkanku untuk menjalani laku tirakat yang mereka sebut "ngempet". Sebuah latihan untuk menahan diri dari segala keinginan, dari segala hasrat untuk memiliki.


 "kalau kau terbiasa tidak ngempet, kau akan jadi budak keinginanmu sendiri. Tapi jika kau membiasakan diri tak merasa memiliki apa-apa, maka ketika suatu hari kau bisa membeli segalanya, kau sudah tak ingin apa-apa lagi."


Kalimat itu menggantung di udara bagai kabut pagi, meresap pelan ke dalam kesadaranku. Sebuah paradoks yang menantang zaman: di era yang menjerit-jeritkan konsumsi, di dunia yang menyembah standar hidup dan gemerlap materi, ajaran ini hadir bagai batu yang dilemparkan ke kolam yang tenang. Di tengah gegap gempita modernitas yang menjadikan "self-reward" sebagai mantra baru, laku "ngempet" justru mengajak kita untuk menyepi dari pesta pora hasrat.


Lalu teringatlah aku pada wejangan Imam Al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūm al-Dīn tentang zuhud: "Zuhud itu bukanlah tidak memiliki harta, tetapi zuhud itu adalah ketika sesuatu yang tidak ada di tanganmu tidak lebih mengganggumu daripada sesuatu yang tidak ada di hatimu." Inilah mungkin akar filosofi "ngempet" itu sebuah laku menata hati sebelum menata dunia.


Tapi kemudian, datang lagi perintah untuk bertirakat. Kali ini, dengan suara yang mulai menemui bentuknya sendiri, kusampaikan penolakan. "Saya memilih untuk bersyukur," kataku, "untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT dalam hidup ini."


Bukan karena aku tak sanggup, bukan pula karena aku meragukan manfaatnya. Tapi karena aku mulai memahami bahwa spiritualitas bukanlah perlombaan untuk melihat siapa yang paling mampu menyiksa diri. Iman bukanlah kontes ketahanan fisik, melainkan perjalanan hati menuju pengenalan yang lebih dalam tentang rahmat-Nya.


Di sini aku teringat pada Syekh Ihsan Al-Jampesi dalam Manāqib Syaikh Ihsan: "Jangan sampai kesibukanmu menyiksa dirimu membuatmu lupa akan nikmat-Nya. Sebab, menikmati nikmat dengan syukur adalah ibadah, sedang menyiksa diri tanpa hak adalah kesia-siaan."


Di manakah sebenarnya letak keseimbangan antara disiplin tradisi dan kelapangan syukur? Antara laku prihatin dan kemampuan untuk menikmati karunia Ilahi? Apakah mungkin bahwa justru dalam kemampuan untuk bersyukur itulah tersimpan makna tirakat yang sebenarnya?


Modernitas telah menciptakan standar-standar baru, bahkan dalam hal spiritualitas. Kita mengukur segala sesuatu dengan parameter efisiensi dan hasil yang terlihat. Tapi bukankah hakikat spiritual justru terletak pada keheningan yang tak terukur, pada penyerahan yang tak bisa dibakukan?


Aku merenung: jangan-jangan, baik "ngempet" maupun "bersyukur" adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Ta'līm al-Muta'allim: "Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah, tapi amal tanpa ilmu seperti berjalan tanpa arah." Keduanya mengajak kita untuk keluar dari penjara keinginan - yang satu dengan menahan diri sebelum memiliki, yang lain dengan merasa cukup setelah menerima.


Di tengah dunia yang semakin kompleks, di mana tradisi dan modernitas saling berkejaran, mungkin yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk mendengarkan suara hati sendiri, tanpa harus menolak mentah-mentah warisan leluhur, tapi juga tanpa terjebak dalam romantisme masa lalu yang buta.


Karena pada akhirnya, perjalanan spiritual setiap orang adalah sungai yang mengalir dengan caranya sendiri-sendiri. Ada yang menemukan Tuhan dalam kesunyian pertapaan, ada yang menemukan-Nya dalam tawa anak-anak, dalam hangatnya makanan sederhana, dalam desir daun yang tertiup angin. Seperti nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Futūh al-Ghaib: "Jalan kepada Allah sebanyak napas makhluk. Masing-masing memiliki jalan yang tak sama, tapi tujuan yang satu."


Aku memilih untuk bersyukur - bukan karena menolak tradisi, tapi karena menemukan jalanku sendiri untuk mengenal-Nya. Sebab, bukankah syukur itu sendiri adalah bentuk tirakat yang paling manusiawi? Sebuah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah pinjaman, bahwa kenikmatan sekecil apapun adalah bukti kasih sayang-Nya yang tak pernah putus. Seperti kata Ibn 'Athā'illah dalam Al-Hikam: "Bersyukurlah atas nikmat, niscaya Allah akan memberkatimu. Nikmat yang disyukuri tak akan berkurang, justru bertambah dan sempurna."


Di senja yang semakin pekat ini, aku tersenyum. Mungkin inilah tirakat zaman now: tetap menjalani hidup dengan segala kompleksitasnya, tapi dengan hati yang selalu terjaga, yang tak larut dalam gemerlap dunia, tapi juga tak lari dari tanggung jawab sebagai manusia yang harus tetap hidup di dalamnya. Sebuah tafsir baru atas wejangan-wejangan lama, yang seperti air—mengalir menyesuaikan dengan kontur zaman, tapi tak pernah kehilangan hakikatnya sebagai air.

Komentar

Postingan Populer