TASAWUF NYA ORANG-ORANG BIASA
Kitab Al Hikam karya Syeikh Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari.
مِنْ عَلامَةِ الاعْتِمادِ عَلى العَمَلِ، نُقْصانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجودِ الزَّللِ.
Salah satu tanda bergantungnya seseorang kepada amalnya adalah kurangnya raja‟ (harapan terhadap rahmat Allah tetkala ia mengalami kegagalan (dosa)
إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الأَسْبابَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ.
“Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan keinginan duniawi, termasuk mencari rezeki padahal Allah telah menetapkan engkau pada asbab (usaha, diman allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan, adalah termasuk dalam bisikan syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah something kemerosotan dari himmah (tekad spiritual yang luhur.)”
سَوَابِقُ الهِمَمِ لا تَخْرِقُ أَسْوارَ الأَقْدارِ.
Himmah (cita-cita yang kuat takkan mampu menembus dinding takdir)
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبيرِ. فَما قامَ بِهِ غَيرُكَ عَنْكَ لا تَقُمْ بهِ لِنَفْسِكَ.
Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir (mengatur urusan duniawi dengan susah payah. Karena, sesuatu yang telah diurus untukmu oleh selain dirimu (sudah diurus oleh Allah, tidak perlu engkau turut mengurusnya.)
Ketika Syeikh Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari menulis Al-Hikam di abad ke-13, mungkin ia sedang melihat wajah kita di abad ke-21 ini. Setiap aforismenya adalah cermin yang memantulkan kebodohan kita yang terbaru.
"Min 'alamati al-i'timadi 'ala al-'amali, nuqshanu ar-raja'i 'inda wujudi az-zallati."
Ini bukan lagi sekadar karya tasawuf. Ini adalah diagnosis terhadap penyakit zaman kita. Kita hidup di era di mana manusia lebih percaya pada algoritma media sosial daripada takdir Allah. Kita menghitung engagement rate tetapi lupa menghitung roja' (harapan) kepada Rahmat-Nya.
Konteks Modern: Di era pencapaian materialistik, kita telah mengganti konsep "amal" dengan "prestasi duniawi". Ketika karir stagnan, bisnis bangkrut, atau proyek gagal, kita mengalami despair existential yang mendalam—bukannya karena meninggalkan shalat, tetapi karena gagal memenuhi target kuartalan.
Jika kita mengamati lagi beberapa ulama juga menegaskan hal seperti ini:
· Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa riya' (pamer) yang tersamar justru lebih berbahaya, termasuk ketika kita menyamarkan ambisi duniawi sebagai "ibadah" atau "pengabdian".
· Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuh al-Ghaib mengingatkan: "Banyak orang yang rajin beribadah, tetapi sebenarnya mereka sedang menyembah dirinya sendiri."
Saya jadi teringat Cerita Kyai dan kera.
mengapa kyai terus memberi makanan kepada kera itu begitu banyak, bukankah dua tanganya sudah mengenggam makanan, bukankah itu sudah cukup?" tanya seorang santri kepada kyai.
"lihat benar-benar kera itu mengambil makanan, dia masih menjulurkan kakinya walau dua tanganya sudah menggenggam makanan, lalu apa kamu juga ingin menggenggam makanan dengan kakimu karena tanganmu sudah tak sanggup menggenggamnya?" tanya kyai kepada santri
santri menjawab "tidak kyai, saya masih memiliki akal."
"maka sesungguhnya derajat kita di tinggikan dengan ciptaanya yang lain agar kita tau eksistensi kita sebagai khalifah di bumi ini. Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya, bahkan manusia diberi fitrah yang membuat orang tak mengennal agama namun bisa mengenal Allah swt." kata kyai
lalu santri bertanya. "apakah Kelalaian itu termasuk karena tegang oleh dunia, atas dunia dan karena dunia. di luar sana saya melihat orang-orang sering menanggapi hak milik, kedudukan, harta benda, aset-aset, saham dan nama, bahkan seperti sudah tidak manusia lagi, apakah itu termasuk ingkar terhadap fitrah yang di beri Allah swt?"
kyai hanya menjawab. "Ya Hayyu Ya Qayyum"
Kita adalah kera-kera yang telah berevolusi. Dua tangan kita sudah memegang gaji bulanan, tapi kaki kita masih menjulur mencari side hustle. Mulut kita sudah kenyang, tapi mata kita masih melirik rezeki orang lain. Kita bukan lagi kera yang mengambil pisang, melainkan manusia yang mengambil saham, cryptocurrency, dan followership.
Ketika santri menjawab, "Saya masih memiliki akal," kita harus tertawa getir. Karena justru akal kitalah yang telah menjadi alat paling canggih untuk menjustifikasi keserakahan. Kita menyebutnya "bisnis cerdas", "strategi marketing", atau "investasi masa depan".
Syeikh Ibnu 'Atha'illah mengingatkan:
"Iradatuka at-tajrida ma'a iqamati Llahi iyyaka fi al-asbabi min asy-syahwati al-khafiyyah."
Inilah paradoks abadi: Kita ingin menjadi suci dengan meninggalkan dunia, padahal Allah menempatkan kita di dalamnya. Atau sebaliknya, kita terjebak dalam dunia seolah-olah itulah tujuan akhir.
Ada sebuah cerita:
"sekarang umurmu berapa?"
seseorang bertanya kepadaku, mengingatkanku kepada pesan pak kyai waktu remaja saat mengaji di surau.
"sekarang umurku..." Ketika dia bertanya seperti itu aku bahkan ragu untuk menjawab pertanyaan yang sangat mudah seperti itu.
kata pak kyai, tidur itu seperti mati
maka mersyukurlah jika kamu bisa bangun, itu semua melainkan Allah yang membangunkanmu untuk beribadah kepadanya
akhir-akhir ini aku tidur sekitar 8 jam dan menggunakan smartphone untuk hiburan kurang lebih dari 9 jam, sisa waktuku aku habiskan untuk bertemu orang-orang yang terkadang membuatku sibuk bertengkar satu sama lain, dari hari kehari dalam tema pertengkaran dan kesalingcurigaan yang amat picisan dan penuh kecengengan. saling ngrasani satu sama lain dalam tema kampungan.
jika waktu hidup ini hakikatnya hanya untuk beribadah kepada Allah
maka ternyata aku sudah lama mati.
"lalu, sekarang umurku sisa berapa?."
Pak Kyai berkata: "Tidur itu seperti mati."
Tapi ada kematian yang lebih berbahaya dari tidur: keadaan terjaga tetapi jiwa tertidur. Kita menghabiskan 9 jam sehari memandangi layar—bukan untuk ibadah, bukan untuk belajar, melainkan untuk menyaksikan pertunjukan sampah zaman.
Kita mati secara perlahan:
· Matinya perhatian oleh scroll tanpa henti
· Matinya empati oleh konten kebencian
· Matinya akal oleh informasi picisan
· Matinya hati oleh drama yang dibeli dan dijual
Syeikh Wahbah Az-Zuhaili berkata: "Meninggalkan sesuatu yang pasti untuk demi sesuatu yang diragukan itu dilarang."
Tapi lihatlah kita: Meninggalkan shalat yang pasti pahalanya untuk menonton video yang diragukan manfaatnya. Meninggalkan membaca kitab yang pasti ilmunya untuk membaca komentar yang diragukan kebenarannya.
Ketika santri bertanya apakah obsesi pada harta dan jabatan adalah pengingkaran terhadap fitrah, Kyai hanya menjawab: "Ya Hayyu Ya Qayyum."
Dua nama Allah ini adalah kunci memahami krisis zaman kita:
· Al-Hayyu: Yang Maha Hidup. Kita telah mengganti Kehidupan sejati dengan kehidupan artifisial.
· Al-Qayyum: Yang Maha Berdiri Sendiri. Kita telah mengganti ketergantungan pada-Nya dengan ketergantungan pada notifikasi dan validasi digital.
Inilah bentuk kelalaian terkini: kita tidak lagi lupa kepada Allah karena sibuk dengan ternak dan pertanian seperti nenek moyang kita, melainkan karena sibuk dengan avatar dan metaverse.
Syeikh Ibnu 'Atha'illah menulis:
"Sawabiqu al-himami la takhriqu aswara al-aqdari."
(Cita-cita yang kuat takkan mampu menembus dinding takdir.)
Kita hidup di era yang menyembahkan himmah (tekad kuat). Motivator berkata: "You can achieve anything if you want it badly enough." Tapi Kitab Al-Hikam mengingatkan: Ada dinding takdir yang tak bisa ditembus oleh tekad sekuat apapun.
Bukan berarti kita tidak berusaha. Tapi kita diajak untuk membedakan antara:
· Himmah yang tunduk pada takdir
· Kesombongan yang menabrak takdir
Kita ingin menjadi influencer, pengusaha sukses, pemimpin bangsa—tapi lupa bahwa yang terjadi akhirnya adalah apa yang Allah takdirkan, bukan apa yang kita himmah-kan.
"Arih nafsaka min at-tadbir. Fama qama bihi ghairuka 'anka la taqum bihi li nafsika."
(Istirahatkanlah dirimu dari melakukan tadbir...)
Inilah pelajaran paling sulit di zaman yang memuja kontrol dan perencanaan. Kita membuat life plan 5 tahun, career path 10 tahun, financial planning 20 tahun—seolah-olah kita yang menentukan takdir kita.
Generasi muda terjebak antara dua kutub: menjadi "spiritual influencer" yang meninggalkan dunia atau "hustle culture warrior" yang mengorbankan segala hal untuk produktivitas. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan.
· Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan: "Hakikat tawakal bukanlah meninggalkan sebab, tetapi menyandarkan hati hanya kepada Allah setelah mengambil sebab."
· Syekh Said Nursi dalam Risalah an-Nur menegaskan: "Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok."
Bukan berarti kita tidak boleh berencana. Tapi Kitab Al-Hikam mengajarkan seni membedakan antara:
· Tadbir (mengatur) yang adalah tugas kita
· Taqdir (menentukan) yang adalah hak prerogatif Allah
Kita seperti sopir yang bertugas menyetir, tetapi lupa bahwa yang menentukan jalannya mobil adalah jalan yang sudah ada, rambu-rambu lalu lintas, dan kondisi mobil—semua di luar kendali sopir.
Jadi, ketika ada yang bertanya "Sekarang umurmu berapa?" — ini bukan lagi pertanyaan tentang tanggal lahir. Ini adalah pertanyaan tentang:
· Berapa jam dari hidupmu yang benar-benar hidup?
· Berapa menit dari waktumu yang diisi dengan kesadaran akan Allah?
· Berapa detik dari nafasmu yang menjadi ibadah?
Pak Kyai berkata tidur seperti mati. Tapi mungkin yang lebih menakutkan adalah: kita bisa terjaga tetapi jiwa kita mati. Kita bisa bernafas tetapi hati kita berhenti berdetak.
Kitab Al-Hikam bukan buku tua yang usang. Ia adalah manual survival untuk manusia modern yang tersesat dalam labirin pencapaian duniawi. Setiap aforismenya adalah tamparan—atau mungkin pelukan—bagi kita yang telah lupa bagaimana cara benar-benar hidup.
Sekarang, tanyakan pada dirimu sendiri: "Berapa sisa umurku yang benar-benar hidup?"
Ditulis dengan merujuk pada Kitab Al-Hikam karya Syeikh Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari (w. 1309 M), kitab Fiqh kontemporer Syeikh Wahbah Az-Zuhaili, serta tradisi pesantren yang berusaha bertahan di gempuran modernitas. Dengan penuh hormat pada kh. A. Mustofa Bisri yang mengajarkan bagaimana mengaji dengan hati dan mengkritik dengan cinta.

Komentar
Posting Komentar