DUA GARIS PERTAMA DALAM HIDUP KITA



Pukul setengah sepuluh malam itu, Ibumu keluar dalam kamar mandi menyampaikan kabar sederhana: "Tesnya dua garis." Saat itu aku sedang mencuci baju. Aku hanya bisa terdiam sejenak, hampir tak percaya kita memastikan bersama, betapa bahagianya kita waktu itu lalu mengucap syukur.


Rasa itu memang sudah lama hadir. Seperti ada ruang kosong dalam hidup kami yang menunggu diisi. Dan kini, ruang itu akan terisi.


Segera kuhubungi guru yang juga sahabat baikku. Aku minta nasihat tentang tirakat menyambutmu. Katanya, "Jangan muluk-muluk. Yang utama: pastikan apa yang dimakan ibumu benar-benar halal. Itu fondasi." Lalu ia menambahkan: "Rutinkan shalawat dan zikir setelah sholat. Doakan kebaikan untuknya. Lakukan dengan istiqomah." Pesan terakhirnya: "Usahakan menafkahi ibumu dari hasil usaha sendiri."


Nasihat itu kupendam dalam-dalam. Bukan sebagai beban, tapi sebagai panduan sederhana. Bukan sebagai ritual berat, tapi sebagai latihan kesadaran. Setiap langkah mengingatkanku pada tanggung jawab besar yang akan datang.


Sebelumnya, tawaran tak terduga datang: sebuah ruko kecil bisa kupakai. Sudah lengkap dengan Perlengkapan masaknya. Aku buka warung sederhana. Di sini, aku belajar arti nafkah yang halal. Warung rempah sederhana, Setiap empon-empon yang kutumbuk, setiap bumbu yang kutumis, kukerjakan dengan niat untuk ibumu dan untukmu.


Ibumu kini lebih sering beristirahat. Kadang kupandangi ia tertidur lelap. Dalam diam, ada keajaiban sedang bekerja. Sebuah kehidupan sedang terbentuk dalam kesunyian rahim.


Aku menulis ini sebagai pengingat untukmu kelak, dan untuk diriku sendiri. Bahwa menjadi orang tua bukanlah tentang kesempurnaan, tapi tentang kesungguhan. Bukan tentang memberi yang terhebat, tapi tentang memberi yang terbaik yang bisa kita usahakan.


Kami berjanji untuk membersamaimu dalam kesederhanaan. Mengajarkanmu bahwa hidup ini perlu dijalani dengan rasa syukur. Bahwa rezeki yang halal itu pangkal ketenangan. Bahwa doa dan shalawat itu penguat jiwa. Bahwa kejujuran dalam bekerja itu harga diri.


Kami tak bisa menjanjikan kekayaan atau kemewahan. Tapi kami berjanji untuk memberimu contoh tentang hidup yang dijalani dengan tanggung jawab dan kesadaran. Tentang seorang ayah yang berusaha menafkahi keluarga dengan cara yang baik. Tentang seorang ibu yang menjaga kandungannya dengan penuh cinta.


Tuhan memang seringkali membalas kesungguhan dengan caranya sendiri. Ruko kecil ini sudah cukup untuk kami mulai. Senyum pelanggan yang puas, tetangga yang menyapa ramah, itu sudah menjadi berkah tersendiri.


Datanglah, Nak. Kami menunggumu dengan tangan terbuka dan hati yang berusaha tenang. Kami akan menerimamu dengan segala kemampuan kami. Akan kami ajari apa yang kami tahu, akan kami perkenalkan pada kebaikan-kebaikan sederhana dalam hidup.


Hidup ini panjang dan penuh pelajaran. Kami pun masih belajar. Mari kita belajar bersama-sama. Kelak, jika kau bertanya tentang bagaimana menyambut kedatanganmu, akan kuceritakan kisah sederhana ini: tentang sebuah kabar gembira di malam hari, tentang nasihat bijak dari seorang guru, tentang warung kecil, dan tentang dua orang yang berusaha menjadi lebih baik karena kedatanganmu.


Sampai jumpa, Nak. Mari kita jalani hidup ini dengan kebaikan-kebaikan di dalamnya.


Karanganyar - 8 Januari 2026

Komentar

Postingan Populer