SEMENDERITA APA DIRIMU?


Anakku,


Sebelum kau melangkah lebih jauh ke dalam dunia yang kadang terasa begitu kejam ini, duduklah sebentar. Aku ingin bercerita tentang seorang lelaki yang mungkin adalah manusia terluka paling paradoks dalam sejarah. Namanya Sengkuni. Dan kisahnya adalah sebuah peta buta tentang bagaimana luka, bila disirami air mata dan dibajak oleh kebencian, bisa tumbuh menjadi hutan belantara yang menelan semua cahaya, termasuk cahaya si penanam benihnya sendiri.


Di panggung wayang, ia sering hanya muncul sebagai siasat yang berjalan, senyum miring di balik sungging wajah. Tapi anakku, wayang tak pernah bercerita tentang jerit yang membatu di belakang layar sebelum pertunjukan dimulai.


---


Bayangkan sebuah negeri yang disebut Gandhara. Subur, bermartabat, punya seratus pangeran dan seorang putri yang kecantikannya dikabarkan bisa membuat rembulan malu untuk menampakkan wajahnya. Salah satu dari seratus pangeran itu bernama Sengkuni. Hidupnya seharusnya tentang mempelajari kitab, tentang filsafat, tentang merawat negeri. Namun, sejarah kerap ditulis oleh rahang-rahang raksasa yang lapar.


Hastinapura, sang raksasa, menginginkan Gandhara takluk. Dan cara paling halus—yang paling pahit—adalah melalui pernikahan. Putri nan cantik itu, Gandhari, harus dinikahkan dengan Dretarastra, pangeran buta Hastinapura. Ini bukan cinta. Ini bukan politik murni. Ini adalah penghinaan yang dibalut kain sutra. Sebuah pesan: “Kami bisa mengambil mutiara terbaikmu dan menyerahkannya pada yang kami anggap cacat. Karena kalian tak lebih dari vasal.”


Dan ketika Gandhari, dalam sebuah protes yang membuat langit menangis, memutuskan untuk menutup matanya sendiri seumur hidup agar setara dengan suaminya, seluruh Gandhara tahu: ini adalah awal dari sebuah penaklukan yang lebih dalam dari sekadar wilayah.


Tapi Hastinapura belum puas. Ketakutan bahwa Gandhara masih menyimpan api pemberontakan di balik kepatuhannya, membuat mereka memasukkan seluruh keluarga kerajaan—sang raja, ratu, seratus pangeran, dan mungkin juga pelayan setia—ke dalam satu penjara. Di sini, kekejaman mencapai nadinya yang paling surreal, paling getir.


Mereka tidak disiksa dengan cambuk. Mereka tidak disiksa dengan rantai. Mereka disiksa dengan harapan. Setiap hari, hanya segenggam nasi dan seteguk air yang dimasukkan ke dalam sel itu. Makanan untuk seekor tikus, untuk seratus lebih manusia.


Lalu, di dalam sel yang bau, gelap, dan dipenuhi rintihan itu, sebuah musyawarah keluarga digelar. Bukan untuk merencanakan pelarian, tapi untuk merencanakan “kelanjutan”. Mereka tahu, dengan jatah itu, semua akan mati perlahan. Lalu siapa yang akan mengingat kehinaan ini? Siapa yang akan menjaga nyala api Gandhara? Siapa yang akan membalas?


Mata mereka—yang sudah mulai cekung—berpindah dari satu ke lainnya, dan akhirnya berhenti pada Sengkuni. “Kau,” bisik sang ayah, atau mungkin sang ibu, atau semua seratus saudara itu dengan satu suara di dalam hati, “Kau yang harus hidup. Makanlah jatah kami. Bahkan… makanlah daging kami ketika kami sudah tak bernyawa. Jadilah kuat. Jadilah cerdas. Dan balaslah semua ini. Biar kami menjadi tenaga yang masuk ke dalam tulang sumsummu. Biar kami menjadi amarah di matamu. Biar kami menjadi dendam yang kau jalankan.”


Anakku, coba tebak, lebih kejam mana: orang yang memberi segenggam nasi untuk seratus orang, atau orang yang terpaksa harus memakan saudara-saudaranya sendiri demi sebuah amanat?


Sengkuni memilih—atau lebih tepatnya, dipilih—untuk menjadi monster. Ia memakan nasi itu. Ia meminum air itu. Dan ketika satu per satu orang tuanya, saudara-saudaranya, jatuh tak bernyawa di sisinya, dengan tangis yang menyobek jiwanya, ia melakukan hal yang tak terbayangkan. Ia memakan daging mereka. Bukan karena lapar binatang. Tapi karena sumpah. Karena tugas. Karena ia adalah “bank” terakhir dari semua kenangan, semua harga diri, semua luka Gandhara. Setiap gigitan adalah sebuah janji. Setiap kunyahan adalah sebuah doa kutukan.


Bertahun-tahun ia hidup di neraka itu. Hingga akhirnya, ketika sel itu terbuka, yang keluar bukan lagi Sengkuni si pangeran. Yang keluar adalah sebuah arsip hidup yang berjalan. Sebuah kuburan yang bernafas. Sebuah bom waktu dari daging dan darah keluarganya sendiri.


Ia dibebaskan. Hastinapura mungkin berpikir Gandhara sudah hancur total. Mereka tak tahu, mereka justru melepaskan senjata paling berbahaya.

Sengkuni menjadi cerdas dengan cara yang mengerikan. Kecerdasannya bukan dari kitab, tapi dari derita. Bukan dari guru, tapi dari tangis ibunya yang terakhir. Dari lengking kakaknya yang sekarat. Ia memahami manusia bukan dari kebaikan mereka, tapi dari titik kelemahan, ketakutan, dan kerakusan terdalam mereka.

Dengan licin, ia menyusup ke Hastinapura. Menjadi penasihat Duryodhana, keponakannya sendiri, anak dari Gandhari yang matanya tertutup itu. Di sini, anakku, letak tragedi tingkat kedua: Ia menggunakan korban Hastinapura lainnya (Gandhari) dan anaknya, untuk membalas dendam pada Hastinapura. Dendam yang berputar-putar seperti ular yang memakan ekornya sendiri.

Tapi perhatikan ini, anakku. Ini yang membedakannya dari kita yang sering gegabah menyematkan label “jahat”.

Sengkuni tidak menjadi teroris. Ia tidak mengambil pisau lalu membantai warga Hastinapura secara membabi buta. Setelah derita yang ia alami—derita yang memberi ia alasan moral untuk melakukan pembantaian—ia memilih cara yang lain. Ia membalas dengan pikirannya. Dengan dadu. Dengan tipu daya. Ia meruntuhkan sebuah kerajaan besar bukan dengan pedang, tapi dengan memperbesar kecemburuan, menyuburkan keserakahan, dan memanipulasi aturan.

Ia meracuni sistem-nya, bukan rakyatnya. Ia memainkan kekuasaan, bukan nyawa orang tak bersalah. Dalam skema balas dendam yang paling mengerikan sekalipun, ia masih mencoba—dengan caranya yang bengkok—untuk berada di dalam sebuah “aturan permainan”. Permainan dadu.


Dan di sinilah kita harus berhenti sejenak, menatap cermin yang disediakan oleh kisah ini dengan sangat jujur.

Jika Sengkuni yang semenderita itu—yang dipenjara, disiksa kelaparan, dipaksa memakan daging orang tuanya dan seratus saudaranya sendiri, yang hidupnya telah dikeruk habis-habisan sampai hanya tersisa lubang hitam dendam—jika dia saja masih memilih untuk tidak menjadi jahat yang membabi-buta, kejam yang sembarangan, dan tidak adil yang menyakiti orang kecil yang tak berdosa…

Lalu, semenderita apa kamu, hingga kamu begitu tega, begitu kejam, dan begitu tak adil?

Semenderita apa kita, yang hanya direndahkan sedikit di media sosial, lalu ingin menghancurkan hidup orang yang merendahkan itu dengan menyebar kebencian dan fitnah?

Semenderita apa kita, yang hanya dizalimi dalam sebuah proyek, lantas tak segan menjegal dan menghancurkan masa depan seluruh keluarga lawan kita?

Semenderita apa kita, yang punya luka masa lalu, lalu dengan mudahnya menebar kebencian pada suku, agama, atau golongan yang berbeda, seolah-olah mereka adalah penyebab segala nestapa kita?

Kita makan “daging saudara” kita sendiri—yaitu kemanusiaan, empati, akal sehat—bukan untuk sebuah sumpah luhur seperti Sengkuni, tapi sering kali hanya untuk ego. Untuk gengsi. Untuk memenangkan perdebatan yang tak berguna di warung kopi. Untuk merasa paling benar di linimasa.

Kita lebih buruk dari Sengkuni. Karena kita melakukannya tanpa beban sejarah seberat itu, tanpa pilihan segetir itu. Kita melakukannya dengan perut kenyang dan hati yang sebenarnya masih punya pilihan untuk memaafkan. Tapi kita memilih untuk menjadi hakim, jaksa, dan algojo bagi sesama kita yang juga mungkin hanya korban dari rantai luka yang lain.


Maka, dengar pesanku ini, nak:

Dunia ini memang penuh Hastinapura-Hastinapura kecil. Penuh kezaliman, ketidakadilan, dan luka. Kau mungkin akan direndahkan. Kau mungkin akan dizalimi. Kau mungkin akan melihat ketidakadilan berlaku di depan matamu. Hatimu akan panas, dadamu akan sesak, dan di dalam kepalamu akan berdesing sebuah bisikan: “Balas! Mereka layak mendapatkannya!”


Di saat itulah, ingatlah Sengkuni.

Ingatlah ruang penjara gelap itu. Ingatlah segenggam nasi untuk seratus orang. Ingatlah tangisan seorang lelaki yang memakan daging saudaranya sendiri bukan karena benci, tapi karena sebuah amanat yang lebih berat dari nyawanya. Dan ingatlah, bahwa bahkan dari lubang neraka yang sedalam itu, dia masih memiliki sebuah “batas” yang tidak dia langgar. Dia memilih meruntuhkan istana, bukan membakar gubuk-gubuk rakyat.

Jangan kau izinkan luka menjadikanmu kejam. Kejam adalah ketika kau menggunakan penderitaanmu sebagai alasan untuk membuat orang lain menderita. Jahat adalah ketika kau tahu itu salah, tapi kau tetap melakukannya karena merasa berhak. Tidak adil adalah ketika kau menyamaratakan semua orang di satu kelompok dengan kesalahan satu orang yang menyakitimu.

Jadilah lebih bijak dari Sengkuni. Belajarlah dari penderitaannya, tapi jangan mengulang jalannya. Karena dendam, anakku, adalah guru yang buruk. Ia mengajarmu untuk membunuh musuh, tetapi pelajaran pertama yang ia berikan adalah membunuh dirimu sendiri—membunuh kemanusiaanmu, kedamaianmu, dan cahaya di matamu.

Hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan meracuni sumur hanya karena kita pernah haus. Terlalu indah untuk dihabiskan dengan menghitung-hitung luka. Ada cara lain. Ada jalan lain. Jalan memaafkan bukan karena mereka layak, tapi karena kau layak untuk hidup bebas dari beban itu. Jalan membangun bukan meruntuhkan. Jalan memberi minum meski kita sendiri pernah kehausan.

Kau boleh menjadi kuat, bahkan menjadi cerdik seperti Sengkuni. Tapi gunakan kekuatan dan kecerdikanmu untuk membangun jembatan, bukan merancang jebakan. Untuk menyembuhkan, bukan melukai. Untuk menjadi cahaya, sekecil apapun, di tengah gelapnya dunia.

Jika suatu hari nanti kau terjatuh dan terluka, dan bisikan kebencian datang mendekat, tanyakan pada dirimu sendiri: “Semenderita apa aku, hingga aku harus menjadi kejam? Bahkan Sengkuni yang semenderita itu, masih memilih untuk tidak.”

Lalu, pilihlah untuk menjadi manusia. Bukan korban. Bukan algojo. Tapi manusia yang merdeka, yang kasihnya lebih besar dari lukanya.

Kau adalah anakku. Dan aku percaya, kau bisa menjadi lebih baik dari semua cerita ini.

Komentar

Postingan Populer