SEPERTI BURUNG KUTILANG YANG MEMBENTANGKAN SAYAPNYA.



Nak,

Aku ingin bercerita tadi pagi aku menemukan wadah makan yang biasanya di siapkan ibumu buat bekalku ternyata rusak dan hancur total di makan tikus, aku juga bingung dengan kondisi itu, bagaimana bisa wadah makan yang aku taruh tas yang tertutup masih bisa kena sasaran ganasnya tikus tikus got itu, dan anehnya resleting tasnya masih tertutup, aku semalam tidur di musola sebuah rumah makan sahabatku, motor jadul ku rusak sudah beberapa hari, aku bingung cara memperbaikinya bukan karena ngga bisa tapi waktuku sudah habis rasanya bahkan untuk mendorongnya ke bengkel, aku tak pulang, aku juga kurang tahu apa yang dipikirkan oleh ibumu ketika aku tak pulang. Setelah pagi datang akhirnya aku bisa pergi dari tempat itu dengan naik sepeda dan langsung menuju tempat kerja ku, aku kayuh perlahan dan menikmati pagi yang indah dengan mendengarkan banyak lagu cinta, namun seberapa indahnya pagi dan lagu-lagu cinta tanpa melihat orang tersayang. semakin ku kayuh semakin rindu aku memikirkanmu dan ibu, serta berfikir keras bagaimana aku menjelaskan wadah makan yang rusak itu kepada ibumu.

Di tengah kebingungan itu, aku merasa hidup memang sering memberi kejutan yang tak terduga. Seperti wadah makan yang tiba-tiba rusak, atau motor yang tak mau menyala. Semua itu membuatku sadar: ada hal-hal yang tak bisa kita kendalikan, sama seperti hujan yang datang tiba-tiba. Namun apakah aku menyesali ini? Jelas tidak, aku bersyukur atas semua nikmat ini, maka dari itu aku akan rayakan dengan kisah-kisah baik didalamnya.

aku ingin bercerita tentang seekor burung walet yang aku lihat ketika hujan semalam. Bukan yang sedang bernyanyi riang di pagi hari. Bukan yang sedang berebut buah di pohon. Tapi yang sedang menghadapi hujan.

Bayangkan.

Langit, yang tadi biru atau kelabu, tiba-tiba pecah. Air ditumpahkan dari atas sana bagai sebuah keputusan tak terbantahkan. Angin menjadi pendendam, menyapu segala yang lemah. Dan di dahan yang basah, seekor burung walet—dengan tubuhnya yang tak lebih besar dari genggaman tangan anak kecil—melakukan sebuah ritual yang usianya lebih tua dari semua peradaban.

Ia tidak terbang menghindar. Ia tidak mencari daun yang lebar. Ia membuka kedua sayapnya, lalu membengkokkannya, menyatukan ujung-ujungnya, sehingga terciptalah sebuah lingkaran. Sebuah kubah. Sebuah katedral mini dari tulang, daging, dan bulu yang segera basah. Di bawah kubah itulah, tersembunyi dari amukan butir-butir air, ada kehidupan yang lebih kecil dan lebih lunak: anak-anaknya. Ia menjadi atap. Ia menjadi tembok. Ia menjadi bumi dan langit sekaligus bagi makhluk-makhluk yang dipercayakan langit padanya.

---

Aku belajar dengan burung walet itu, hujan yang harus kuhadapi bukanlah hujan musiman. Ia adalah hujan bernama: tuntutan. Hujan bernama: ketidakpastian. Hujan bernama: rasa cemas akan esok hari. Ia adalah deras tagihan yang jatuh berdesakan seperti rintik yang tak henti. Ia adalah angin kencang gosip dan fitnah yang mencoba menerbangkan rumah kita. Ia adalah petir bernama kegagalan yang menyambar-nyambar di sekeliling, menerangi wajah-wajah lelah kami, orang-orang dewasa yang pura-pura tahu jalan.

Di bawah hujan seperti itu, naluriku hanya satu: membentangkan sayap. Membentuk lingkaran. Menjadi kubah.

Aku berusaha, Nak. Bukan dengan setengah hati, tapi dengan segenap jiwa. Jiwa yang juga pernah ingin terbang ke angkasa, menjelajah puncak-puncak, bernyanyi di dahan-dahan tertinggi. Tapi kini, jiwa itu memilih untuk membungkuk, membentuk pelindung. Karena di bawah lenganku yang membentang, ada engkau. Ada ibumu. Kelak Ada adik-adikmu. Ada sebuah dunia kecil bernama “kita” yang harus dijaga agar apinya tidak padam, agar telurnya tidak pecah, agar nyanyiannya tidak berhenti.


Ini bukan pilihan heroik. Ini bukan kesaktian. Ini bahkan bukan pengorbanan. Ini lebih dalam dari itu semua: ini adalah naluri. Sebuah kata yang akar katanya mungkin bersumber dari kata “nalar” atau “nali” (pembuluh), sesuatu yang mengalir begitu saja, seperti darah. Seperti nafas.

---

Dan naluri ini, Nak, bukan monopoli kita, manusia. Ia adalah musik dasar kehidupan. Lihatlah!

Lihat induk ayam yang mengepakkan sayapnya saat elang melintas. Lihat gajah betina yang membentuk formasi melingkar, menghadap keluar, saat anak-anaknya berada di tengah, dilindungi tubuh-tubuh raksasa. Lihat ikan-ikan kecil yang berkerumun membentuk bola raksasa untuk mengelabui predator. Bahkan lihat pohon jati yang meranggas di musim kemarau, mengorbankan daun-daunnya demi menghemat air untuk bertahan hidup—bentuk perlindungan untuk dirinya sendiri sebagai sebuah keluarga organisme.

Semua makhluk, dari yang bersel satu sampai yang bermahkotakan akal budi, punya peta cinta yang sama: lingkaran pertahanan di sekitar yang dianggapnya sendiri. Ini adalah hukum alam yang paling purba, lebih tua daripada hukum gravitasi. Ia adalah perekat semesta. Kalau tidak ada naluri ini, kehidupan akan punah dalam satu generasi. Tak akan ada yang menjaga telur sampai menetas. Tak akan ada yang memberi makan yang lemah. Tak akan ada yang bertahan demi kelanjutan cerita.

Maka, ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Semua ini hanya menjalankan program dasar ciptaan. dengan merangkul bagian binatangku. Aku sedang menyetel diriku pada frekuensi alam semesta.

Tapi, Nak, di sinilah letak tragedi dan sekaligus keajaiban manusia.

Kita punya naluri burung walet, tapi kita juga punya kesadaran yang bisa meragukan naluri itu. Kita punya sayap, tapi kita juga punya buku-buku filsafat yang bertanya, “Untuk apa sayap dibentangkan jika pada akhirnya kita semua akan basah juga?” Kita punya kemampuan membentuk kubah, tapi kita juga punya keinginan untuk terbang sendiri, menjelajah hutan-hutan impian yang mungkin terlihat lebih indah.

Banyak orang—mungkin karena terlalu pintar, atau terlalu sakit—melupakan naluri berkubanya. Mereka melihat anak dan keluarga sebagai beban yang menghalangi terbangnya. Mereka melihat hujan sebagai masalah orang lain. Mereka sibuk membentangkan sayapnya untuk melindungi ego, gengsi, karier, atau harta bendanya. Sementara sarangnya bocor. Sementara anak-anaknya kedinginan, bukan karena hujan dari langit, tapi karena hujan ketiadaan kasih sayang dari atap hatinya sendiri.

Aku memilih untuk tidak menjadi seperti itu. Aku memilih untuk merasa. Aku memilih untuk basah. Aku memilih pegal-pegal di bahu karena sayap yang terlalu lama terbentang. Karena aku tahu, di dalam kubah yang aku buat ini, ada tawa yang masih hangat. Ada mimpi yang masih tumbuh. Ada masa depan yang harus dicapai.



---

Nak, kelak kau akan mengerti. Bahwa cinta paling nyata tidak selalu berwujud pelukan hangat atau kata-kata manis. Seringkali, ia berwujud punggung yang lelah menahan beban. Ia berwujud mata yang sembab karena begadang memikirkan cara berikhtiar apa lagi setelah ini. Ia berwujud tangan yang kasar bekerja, tapi selalu lembut saat membelai kepalamu. Ia adalah keheningan yang memandang ke luar jendela, menghitung lagi dan lagi, memastikan angka-angka itu cukup untuk membeli nyaman untukmu.

Ini adalah sekolah tanpa papan tulis. Kurikulumnya adalah hidup itu sendiri. Dan ujiannya adalah setiap kali hujan datang, dan kita memutuskan: lari menyelamatkan diri sendiri, atau bertahan membentuk lingkaran?

Aku berharap, kelak ketika kau menjadi burung walet—entah untuk anakmu, untuk orangtuamu yang sudah renta, atau untuk siapapun yang kau anggap sebagai “keluarga”—kau akan ingat ini: bahwa membentuk kubah itu melelahkan, tapi itu adalah kelelahan yang bermakna. Bahwa basah itu tidak nyaman, tapi di dalam ketidaknyamanan itulah terkandung sebuah arti yang dalam: kita hidup bukan untuk diri kita sendiri semata.

Hujan mungkin akan terus turun, Nak. Terkadang gerimis, terkadang badai. Tahu tidak? Aku sudah berjanji pada diri sendiri: selama napas ini masih ada, selama tulang-tulang di bahu ini masih bisa digerakkan, sayap ini akan tetap terbentang. Aku akan terus berusaha menjadi kubah. Mungkin tidak sempurna, mungkin bocor di sana-sini, tapi akan kuperbaiki terus dengan tambalan kesabaran dan doa.

Aku adalah burung walet yang paling bangga di jagat raya.

Karena di bawah sayapku, tumbuh sebuah dunia yang suatu hari akan melanjutkan terbangnya—mungkin lebih tinggi, lebih jauh, dan dengan sayap yang lebih kuat.

Tapi mereka akan selalu ingat, bahwa sekali waktu, ada sayap kecil yang membentang, membentuk lingkaran, agar mereka bisa belajar arti “aman”.

Itulah cinta dalam bentuknya yang paling sederhana dan paling purba.


Seperti burung walet yang membentangkan sayapnya.


Ayah/ibumu,

Yang bahagia melihatmu tumbuh.

Komentar

Postingan Populer