Aku mau menikah
Dalam Rangka Menikahi Dunia
Aku hendak menikah.
Dunia berkata, "Yang mahal hanya gengsi." Tapi hidupku adalah kumpulan hal-hal yang tak pernah tunduk pada apa kata dunia.
Kacamataku patah. Dua keping kaca yang dulu membantuku melihat jalan, kini hanya tinggal kenangan di telapak tangan. Aku bisa merasakan setiap pecahannya—tajam, seperti semua janji yang tertunda. Dunia kini kabur, tapi justru dalam kekaburan ini, aku melihat lebih jelas: bahwa mencintaimu adalah pilihan paling jernih yang pernah kulakukan.
Motorku—motor tua 1975 yang kupilih di ujung keputusasaan—kini diam. Aku masih ingat bagaimana harus melepas Vespa biru hasil merantau dan pekerjaan yang penuh tantangan, bagaimana air mata bercampur debu di bengkel tua itu. Motor ini bukan sekadar besi beroda; dia saksi bagaimana aku belajar berdiri lagi setelah terjatuh.
Dan di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, ketika orang tuamu hendak datang untuk membicarakan masa depan kita, motor tua itu memilih mengucapkan selamat tinggal dengan cara paling dramatis: terbakar. Api menyala-nyala, seolah ingin mengingatkanku bahwa terkadang, hal-hal yang kita andalkan bisa berubah menjadi abu di saat paling tak terduga.
Sekarang aku mengayuh sepeda.
Di tengah dunia yang berlari kencang, aku tetap bersepeda. Setiap kayuhan adalah pengakuan: ya, aku terlambat. Tapi setiap putaran roda adalah janji: aku akan tetap sampai.
Aku tertawa ketika kalah, karena kekalahan sudah menjadi teman setia yang lebih memahami nadinya daripada kemenangan. Aku pernah juara—piala berjejer di rak kayu yang reot—tapi tak satupun yang mengajarkanku bagaimana memenangkan hati seorang perempuan sambil memperbaiki motor tua dan menabung untuk cincin nikah.
Namun di tengah semua ini, ada satu hal yang tetap jelas:
Aku masih berusaha.
Dengan sepeda butut yang mengeluarkan bunyi di setiap kayuhan, dengan dunia yang semakin kabur tanpa kacamata, dengan simfoni kekalahan yang sudah hafal di luar kepala—aku tetap mengayuh. Menujumu. Menuju pernikahan yang mungkin sederhana, tapi akan kujadikan istana dari setiap keping keberanian yang masih tersisa.
Karena terkadang, cinta bukan tentang memiliki semua jawaban, tapi tentang tetap bertanya meski tahu mungkin tak ada jawaban. Bukan tentang memiliki segalanya, tapi tentang tetap memberi ketika yang kau punya hanya sisa-sisa harapan.
Dan untukmu, aku akan tetap memberi—meski yang tersisa hanyalah sisa-sisa harapan ini.

Komentar
Posting Komentar