Sebuah Surat cinta di Tengah Badai Revolusi

 



Magelang, 18 Oktober 1946 - Sebuah Kamar Kosong yang Lembab


Sayang,


Mungkin kau tak akan pernah membaca surat ini. Tapi seperti Soebianti yang menulis untuk Soetarti di tengah gegap gempita revolusi, aku pun menulis untukmu di tengah badai konflik yang membelah generasi kita.


Dua Zaman yang Berbicara


Surat Soebianti tahun 1946 itu mengingatkanku pada kita. Pada jurang pemahaman yang menganga antara generasimu dan generasiku. Kita yang lahir di era digitalisasi, dan kita yang masih menyimpan kenangan tentang surat dan prangko.


"Walaupoen akoe telah mengirim soerat kepada teman² lama, akan tetapi balasan sepoetjoek soeratpoen akoe ta' menerimanja."


Kalimat itu seperti tamparan. Soebianti menunggu balasan di tengah revolusi fisik. Aku menunggu responmu di tengah revolusi digital. Bedanya, jarak Magelang-Purwokerto tahun 1946 butuh berhari-hari dengan risiko ditembak musuh. Jarak kita hanya sejauh sentuhan layar, tapi terasa lebih jauh dari itu.


Konflik yang Menjadi Jembatan


Kau sering bertanya, mengapa aku selalu bernada tinggi. Sayang, aku hidup di antara rasa getir dan dan luka, itu bukanlah sekadar tanggal dan peristiwa. Rasa getir menjelma peristiwa sama tentang Soebianti-Soebianti yang harus memilih antara idealism dan hubungan personal. Tahun 1946 adalah tahun pengkhianatan dan kesetiaan. Teman bisa menjadi lawan, keluarga bisa terbelah.


Seperti Soebianti yang mungkin dianggap pengkhianat karena memilih hijrah ke Magelang, hubungan kita pun diuji oleh perbedaan pandangan. Kau dengan masa depan yang kau impikan, aku dengan keras kepalaku yang kuperjuangkan untuk dipahami.


Romantisme dalam Lintasan Waktu


Tapi dalam semua perbedaan ini, ada romantisme yang tak bisa diingkari. Seperti Soebianti yang bersikukuh "saja ta' akan meloepakannja", aku pun takkan melupakan setiap debat kita yang berapi-api, setiap perbedaan yang justru membuatku jatuh cinta.


Revolusi 1946 mengajarkan satu hal: cinta dan perang memiliki bahasa yang sama. Keduanya tentang pergulatan, pengorbanan, dan pilihan-pilihan sulit. Soebianti memilih menulis meski tahu suratnya mungkin tak sampai. Aku memilih mencintaimu meski tahu kita berasal dari pandangan yang berbeda.


Epilog untuk Dua Generasi


Surat Soebianti akhirnya ditemukan 80 tahun kemudian, menjadi saksi bisu sebuah era. Mungkin surat cintaku ini juga akan menjadi artefak bagi generasi mendatang - tentang bagaimana dua anak manusia dari luka yang berbeda mencoba merajut cinta di tengah gap generasi.


Sayang, jika Soebianti harus menunggu delapan dekade untuk kisahnya ditemukan, aku hanya memintamu satu hal: jangan biarkan cinta kita menjadi arsip yang terlupakan.


Biarlah kita menjadi jembatan antara dua zaman. Kau dengan sabarmu, aku dengan segala upayaku . Bersama, kita bisa menulis babak baru - di mana cinta tak mengenal batas, sama seperti surat Soebianti yang akhirnya menemukan maknanya di tangan kita.


Untuk Sayang, yang mengajarkanku bahwa cinta punya caranya sendiri melintasi waktu.


Catatan Kaki Sejarah:

Berdasarkan arsip Kementerian Penerangan 1947, hanya 28% surat pribadi yang berhasil sampai ke tujuan selama periode 1945-1949. Surat Soebianti adalah salah satu dari 72% yang tersesat, namun justru menjadi harta karun sejarah yang tak ternilai.

Komentar

Postingan Populer