KOMPROMI

 Hidup ini memang tidak pernah menjadi tiruan yang persis dari harapan atau perkiraan kita. Namun, justru di situlah letak keagungannya; ia pantas, bahkan wajib, untuk diperjuangkan. Seperti sebuah kalimat yang terpampang di bokong truk, mengingatkan kita pada hakikat yang pahit namun jujur: "Ya, mau berharap apa di tempat Adam dan Hawa dihukum oleh Tuhan?"


Kalimat itu terasa begitu menyengat dan pas untuk menggambarkan perjalananku. Aku belajar bahwa hidup kerap kali menuntut kita untuk "menekuk", untuk lentur. Dalam bahasa Jawa, ada wejangan halus, "Ora kudu, yo ra popo."—jika tidak harus, ya tidak mengapa. Dahulu, segala yang kanggap penting adalah sebuah keharusan mutlak. Jika tidak terpenuhi, rasanya dunia menutup jalanku. Namun, Tuhan, yang Maha Baik dan Maha Penyayang, membukakan pintu hikmah yang lain. Dia memberiku perjalanan panjang untuk memahami seni "menekuk" hidup ini, bahwa jalan lurus bukan satu-satunya petunjuk arah.


Aku teringat pada masa ketika jiwa mudaku memberontak, memandang dengan geram pada Bapak yang sering termenung dan menghela napas panjang. Batinku yang naif berkata, "Daripada begini, lebih baik cari kerja." Namun, hidup tidak sesederhana itu. Aku baru paham sekarang, betapa seringnya—walau tak semuanya—"orang-orang kalah" yang disenandungkan oleh WS Rendra itu benar adanya. Di panggung dunia, mereka yang terpelanting sering hanya disuguhi label "salah" dan "salah" lagi, tanpa ampun. Kesempatan pertama saja langka, apalagi yang kedua.


Bapakku seorang sarjana. Di desa kami pada zamannya, gelar itu adalah sebuah kemewahan. Namun, gelar tak selalu sejalan dengan rezeki. Dalam kunjunganku ke rumahnya di Kalimantan suatu ketika, ia bercerita tentang betapa getirnya hidup memaksa prinsip dan rasa malu untuk berkompromi. Di ujung tandus ekonomi, ia harus menjual hampir semua yang tersisa. Ia bersepeda dari Bekonang ke Manahan, dan di malam hari, ia menyusun kembali kehormatannya dengan mengais rezeki dari tumpukan sampah. "Kenapa harus tengah malam, Pak?" tanyaku dulu. "Agar teman sekerja tak melihat," jawabnya lirih. Rasa malunya masih tersisa, sebagai penanda bahwa harga dirinya belum sepenuhnya mati.


Hidup terus memintanya untuk tunduk. Sepeda butut, saksi bisu perjuangannya, akhirnya ikut terjual untuk menutupi kebutuhan mendesak keluarga. Kini, aku baru menyadari betapa pilunya saat itu—kebutuhan apa gerangan yang harus ditebus dengan harga yang mungkin hanya beberapa ratus ribu rupiah? Tanpa sepeda, ia berjalan kaki ke kantor, dan perlahan-lahan ia merasakan sepi; orang-orang di sekelilingnya menjauh, entah mengapa. Tak lama, PHK menghampirinya setelah sepuluh tahun mengabdi, dengan alasan klasik: pengurangan karyawan, digantikan yang lebih muda. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas dua SD.


Pemandangan yang paling membekas dalam ingatanku adalah Bapak berjalan di pematang sawah, melintasi puluhan desa, dengan adik kecilku digendongnya untuk dititipkan kepada nenek. Di balik langkahnya yang tegar, ada tetesan air mata yang ia sembunyikan dari matahari. Sementara itu, Ibu terpaksa merantau ke Jakarta, menjadi pembantu rumah tangga, meninggalkan anak dan suami untuk menyambung nyawa keluarga.

Seorang filsuf Timur pernah berujar, "Nikmatilah hal-hal kecil dalam hidup, kelak kau akan menoleh ke belakang dan menyadari, hal yang engkau anggap kecil, sebenarnya besar."


Kalimat itu kini bagai pisau tumpul yang menyayat pelan. Aku baru benar-benar paham maknanya ketika memungut kembali serpihan ingatan yang kutinggalkan. Aku ternyata banyak melupakan detail-detail pilu, bahkan yang belum seberapa pun. Kisah Bapak berjalan di pematang sawah sambil menggendong adikku, lalu melanjutkan langkahnya untuk bekerja—aku tak menyaksikannya langsung. Aku justru mendengarnya dari obrolannya dengan seorang teman, yang kudengar tanpa sengaja.


Betapa getirnya realisasi itu: ternyata, untuk Bapak yang seharusnya menjadi lingkungan terdekatku, aku tak pernah mengerti betapa dalam lukanya, betapa jauh penderitaannya menjelajah. Dia memilih untuk membungkusnya dalam senyap. Seandainya dulu aku membersamainya dalam setiap detik prosesnya, mungkin jiwaku yang masih belia waktu itu sudah berdarah-darah, tercabik oleh beratnya realita yang harus ditanggungnya sendirian.


Apa yang kusampaikan ini hanyalah fragmen awal, beberapa coretan kecil dari sebuah lukisan besar yang penuh dengan warna kelam dan goresan getir. Masih terlalu banyak yang tersisa, yang lebih pahit, lebih menyayat, dan tersimpan rapat dalam lemari arsip kegetiran hidupnya.

Jika Bapak adalah pematang sawah yang sunyi, Ibu adalah lautan yang menelan semua badai dalam diam. Aku tak pernah benar-benar akrab dengan mereka. Dari kecil, jarak itu bukan hanya fisikal, tapi lebih dalam: sebuah jurang pemahaman. Dulu, mataku yang belia memandang mereka dengan biji mata yang keliru, menganggap mereka tak pantas menyandang gelar "orang tua." Betapa getir yang sementara itu berhasil menutupi cahaya cinta mereka yang sebenarnya maha besar.


Terlebih Ibu. Proses yang dijalaninya bagai lagu Iwan Fals "Nelayan"—berlayar di lautan derita, menghadapi gelombang realita yang tak kenal ampun, dan pulang dengan perahu yang penuh luka. Aku kecil saat itu. Rasa syukur dalam ceritanya menjadi abu-abu, samar-samar. Dia harus menjadi apa? Harus bagaimana? Banyak keputusan akhirnya yang harus disepakati dengan Bapak, yang di mataku dulu adalah kesalahan terbesar, yang semakin menjauhkanku darinya. Tapi, siapa yang peduli dengan perasaan ketika hidup sudah begitu susah? Yang tersisa hanyalah insting untuk bertahan, untuk tetap bisa bernapas sampai esok hari.


Naik ke kelas 5 SD, Bapak menitipkanku pada Mbah. Sebuah keputusan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang ujung-ujungnya mentok. Bahkan untuk mencukupi makan satu anak saja, ia sudah tak mampu, padahal kami bersaudara lima. Setahun bersama Mbah adalah fase terjal dalam perjalanan keluarga, tapi aku tak merasakan getirnya karena, sekali lagi, aku tidak membersamai penderitaan itu secara utuh.

Kelas 6 SD, aku kembali. Dan di titik nadir itulah, Bapak memutuskan untuk "menekuk hidup" dengan cara yang paling ekstrem: hijrah. Sebagaimana Rasulullah ﷺ berhijrah meninggalkan Mekkah yang dzalim, Bapak memutuskan untuk pergi dari Jawa yang telah habis menyisakan harapan. Dia mengikuti program transmigrasi ke Kalimantan.

Suasana kepergian itu persis seperti yang dilukiskan Iwan Fals dalam "Semoga Kau Benar":

"Berbondong-bondong orang cumbui angan di bibir pelabuhan... Tinggalkan tanah lahir, desa tercinta, menuju pulau surga... Selamat tinggal semua, bukan aku tak cinta, tiada lagi tersisa... bahkan mimpi kubawa..."

Ada isak tangisan bayi dalam gendongan yang tak mampu menggoyahkan lamunan tentang masa depan. Kapal jangkar diangkat, dan mereka berlayar, meninggalkan segala yang dikenal. "Selamat jalan kawan... bukan aku tak cinta, mungkin saja kau benar..... semoga saja kau benar..." Lirih doa dan keraguan yang menyertai setiap langkah para perantau yang menggadaikan masa lalunya untuk sebuah taruhan masa depan.

Ya. Aku pernah melihatnya. Dengan mata kepalaku sendiri. Bukan hanya cerita.

Aku melihat seorang bapak tua menarik gerobak sampah di terik matahari, urat lehernya menegang, kakinya tertatih, dan matanya kosong, seorang bapak yang menukar beras tak sampai sekilo, untuk anaknya yang sakit, seorang gelandang yang lilnglung tak mengenal jalan pulang, dan kepetihan-kepedihan jalanan lainnya—persis seperti mata Bapakku dulu sepulang kerja. Aku melihat seorang ibu paruh baya jongkok di trotoar, menyuapi anaknya dengan nasi bungkus yang mungkin adalah hasil mengemis seharian, melihat wanita menjajakan tubuhnya di jalanan dan memohon agar anaknya bisa masuk sekolah dasar, seorang ibu yang berangkat petang hingga patah tulang belakang, seorang ibu yang ditinggal suaminya mati dan menghidupi anaknya sendirian—dengan raut wajah yang sama pasrahnya seperti Ibuku saat harus menentukan sikap.


Mereka semua adalah Bapak dan Ibu dalam versi yang berbeda. Mereka semua adalah potret dari sebuah laku yang dalam kitab Al-Hikam disebut “Tafaani”—saling melebur dalam kepedihan yang sama. Derita mereka tidak lagi personal, tapi sudah menjadi “Musyakalah Ijtima'iyyah” (persamaan nasib sosial) yang menyatukan semua orang yang kalah dalam sistem kehidupan.

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa “Siapa yang tidak peduli dengan penderitaan muslim lainnya, maka bukan dari golongan mereka.” Melihat penderitaan orang lain di jalan seharusnya menjadi “Dzikrul Maut” (pengingat kematian) dan “Tafakkur” tentang betapa sementaranya dunia. Tapi lebih dari itu, ia juga menjadi cermin untuk mengenali “Karomatul Insan” (kemuliaan manusia) yang tetap bertahan dalam kondisi paling hina sekalipun. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Orang miskin yang sabar akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang kaya.” (HR. Ibnu Majah).


Kini aku paham. Penderitaan Bapak dan perjuangannya hingga tiba-tiba sering menangis, dan Ibu yang merelakan keakuan didalam hidupnya, bukanlah kisah unik. Mereka adalah bagian dari “Nadzrah 'Ammah” (pemandangan umum) di negeri ini. Setiap hari, di sudut manapun, ada Bapak lain yang menjual harga dirinya untuk sesuap nasi, dan ada Ibu lain yang mempertaruhkan nyawa untuk masa depan anaknya.


Namun, dalam Islam, penderitaan tidak pernah sia-sia. Dalam Kitab At-Tawabin, Ibn Qudamah Al-Maqdisi menulis bahwa “Setiap tetes air mata kesakitan akan menjadi mutiara cahaya di akhirat.” Penderitaan Bapak dan Ibu—serta semua orang yang mirip dengan mereka—adalah “Syahadah” (kesaksian) tentang ketidakabadian dunia. Mereka adalah “Mudzakkir” (pengingat) bagi kita yang sering lupa bahwa hidup hanyalah “Mauqifu Ibtila” (posisi ujian).


Maka, marilah kita ber-“Dzikir” dengan cara yang berbeda. Bukan hanya dengan tasbih dan tahmid, tapi juga dengan:


1. “Dzikrul 'Ain” (ingatan mata) — dengan tidak menutup mata ketika melihat penderitaan orang lain.

2. “Dzikrul Qalb” (ingatan hati) — dengan tetap merasakan pedihnya luka orang lain, meski kita sendiri sedang senang.

3. “Dzikrul Janan” (ingatan seluruh jiwa) — dengan menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan “Tafakkur” tentang makna hidup.


Seperti tertulis dalam Qur'an Surah Al-Balad: 11-16, Allah bersumpah demi kota Mekah dan segala penderitaan manusia, bahwa jalan keluar dari segala kesulitan adalah dengan membebaskan orang lain dari kesulitan. Bapak dan Ibuku—dan semua orang yang menderita di jalanan—adalah “Ayat Kauniyah” yang berjalan, mengingatkan kita pada tanggung jawab sosial dan spiritual kita.


Aku yang dulu hanya memandang penderitaan Bapak-Ibuku sebagai aib keluarga, kini memandangnya sebagai “Madrasah Ruhaniyah”. Setiap cerita getir mereka adalah “Miftahul Hikmah” (kunci kebijaksanaan) yang membukakan pintu-pintu kesadaran.

Mereka—dan semua orang yang menderita di jalanan—adalah para “Guru Sejati” yang mengajarkan kita tentang:

· “Tawakkal” yang nyata, bukan di lisan saja

· “Ikhlas” yang teruji, bukan di teori

· “Jihadun Nafs” yang sehari-hari, bukan sesekali


Semoga Allah mencatat setiap langkah berat kita, dan setiap desahan orang-orang terlantar di jalanan sebagai “Tha'atun Mahdhah” (ibadah murni) yang diterima di sisi-Nya.


Dan semoga kita, yang menyaksikan semua ini, tidak hanya menjadi penonton, tapi ikut menjadi “Ansarul Mustadh'afin” (penolong orang-orang yang lemah), melanjutkan misi kenabian di tengah zaman yang semakin kehilangan rasa peri kemanusiaan.

Hidup adalah tentang kompromi, ada celetukan seorang kawan: 

“Hidup itu susah, tapi sesusah-susahnya jangan sampai menurunkan harga dirimu.”

Lalu ada yang membalas:“Siapa suruh menaruh harga?”


Allahumma ahlikil kufra wal mujrima. Wanshuril mustadh'afina warzuqna syuhadaa' fil hayati kablal mamaati. 

Aamiin.


Komentar

Postingan Populer