Membaca Tangan Kosong - Iwan fals: Dari Nafs Hingga Kembali ke Fitrah

 

DARI KOSONG MENUJU KOSONG


Kita, para peziarah di pasar dunia, sering kali lupa. Lupa bahwa kita datang dengan tangan kosong. Lupa bahwa kita akan pergi dengan tangan kosong. Iwan Fals, dalam genius-nya yang sederhana, justru mengingatkan: di sanakah kebahagiaan sejati? Bukan dalam genggaman, bukan dalam kantong, melainkan dalam keplongan hati yang tak boleh bohong.


Ini bukan sekadar lagu. Ini adalah peta perjalanan ruhani. Sebuah suluk yang melukiskan tahapan-tahapan jiwa (nafs) manusia, dari ia lahir hingga ia menjadi khalifah yang sempurna. Mari kita telusuri, dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih.


PUTIH – SANG BAYI FITRAH DAN NAFS AMMARAH


“Awalnya putih murni dan suci / Seperti bayi baru lahir”


Inilah maqam Fitrah. Titik nol kesadaran. Seperti kain putih yang belum ternoda, jiwa manusia datang dari Allah dengan kemurnian yang absolut. Rasulullah SAW bersabda, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ini adalah modal dasar, quantum potential seorang hamba.


Namun, Iwan Fals tak naif. Ia segera menambahkan: “Ia lemah sekaligus pembohong.” Inilah Nafs al-Ammarah, jiwa yang memerintahkan pada keburukan. Ia lemah secara spiritual, tetapi cerdik dalam memenuhi kebutuhan dasarnya. Tangis bayi adalah “kebohongan” pertama untuk bertahan hidup. Ini adalah peringatan: bahkan dalam kesucian paling putih, ada benih ke-aku-an yang suatu saat harus ditaklukkan.


Pelajaran di Stasiun Putih: Kesucian adalah anugerah, tetapi ketergantungan mutlak pada “sang guru” (orang tua, ulama, lingkungan) akan menentukan ke mana energi yang berlipat-lipat ini mengalir.


---


KUNING – API PERJUANGAN NAFS LAWWAMAH


“Lalu kuning bak matahari / … / ingin segera bertarung”


Inilah masa muda. Api ghirah menyala-nyala. Nafs al-Lawwamah bangkit. Jiwa yang sudah mulai mencela dirinya sendiri ketika berbuat salah. Ia ingin “bersinar,” ingin diakui, ingin “bertarung” membuktikan eksistensinya.


Ini fase yang diperlukan. Matahari perlu bersinar. Tapi, hati-hati. Sinar matahari bisa membakar jika terlalu dekat. Ego yang menggelembung bisa menjadi penghalang terbesar menuju Tuhan. Ini adalah jihad al-akbar yang pertama: bertarung melawan ke-aku-an sendiri.


HIJAU – KEDAMAIAN NAFS MULHAMAH


“Rumput hijau pohon / Siapa pun betah di situ”


Setelah letih bertarung, jiwa rindu akan kedamaian. Hijau adalah warna Islam, warna surga, warna keseimbangan. Ini adalah maqam Nafs al-Mulhamah, jiwa yang telah mendapat ilham kebaikan.


Ia menjadi seperti pohon rindang yang memberi perlindungan. Ia menghasilkan “oksigen tanpa pamrih.” Inilah manifestasi dari Ikhlas. Ia telah menjadi rahmatan lil ‘alamin. Tindakannya tidak lagi untuk dirinya, tetapi untuk kemaslahatan sekitar. Ia telah belajar memberi, bukan hanya mengambil.


BIRU – KEDALAMAN NAFS MUTHMA'INNAH


“Langit biru dan samudra / Tak terkira luas dan dalamnya”


Di sini, perjalanan masuk ke dimensi yang lebih dalam. Biru adalah warna ketenangan (ithmi'nān), kedalaman iman, dan kebijaksanaan (hikmah). Ini adalah Nafs al-Muthma'innah, jiwa yang telah tenang.


“Kendali diri selalu teruji” adalah cermin dari Mujahadah an-Nafs. Laut yang dalam tidak mudah tergoncang ombak kecil. Begitu pula hati yang telah dipenuhi zikir, tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk dunia. “Kesetiannya” adalah kesetiaan pada perjanjian primordial dengan Allah (Alastu bi rabbikum? QS. Al-A’raf: 172).


---


COKLAT – KOKOHNYA NAFS RADIYAH


“Tanah coklat sabar berisi / Kokoh stabil mengayomi”


Inilah maqam Tawadhu’ dan Ridha. Seperti tanah, jiwa ini kokoh, stabil, dan rendah hati. Ia telah menerima segala ketetapan (qadha dan qadar) Allah dengan lapang dada. Ia tidak lagi mengeluh tentang panas dan hujan, karena itulah yang membuatnya subur.


Ia “menghidupi.” Ia menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Inilah puncak dari pelayanan. Ia adalah guru, orang tua, pemimpin sejati yang kehadirannya menenteramkan.


---


HITAM – KESEMPURNAAN NAFS KAMILAH


“Akhirnya hitam tak terduga / Keteguhan karena tempaan”


Banyak yang salah paham dengan hitam. Dalam suluk ini, hitam adalah warna penyempurna. Ia telah menyerap semua warna sebelumnya. Ini adalah Nafs al-Kamilah, jiwa yang sempurna, yang telah melalui tempaan (tahdzib an-nafs) dan ujian.


“Percaya diri sudahlah bulat” adalah keyakinan (Yaqin) yang sempurna kepada Allah. Bukan percaya diri pada diri sendiri, tetapi percaya pada pertolongan-Nya.


Dan tugas terbesarnya adalah “menjembatani”. Ia menjadi wasithah (perantara kebaikan), mursyid, seorang wali yang membimbing manusia lain untuk menemukan jalannya sendiri menuju Allah. Tanggung jawabnya bukan lagi untuk dirinya, tetapi untuk umat.


---



“Tangan kosong, isi kosong / Bukan omong kosong…”


Ini adalah Mantra Zuhud yang diulang-ulang di setiap persimpangan jalan. Ia adalah pengingat abadi:


· Zuhud: “Kantong kosong” bukanlah aib. Aib adalah ketika hati terikat pada isi kantong.

· Shidq: “Bukan omong kosong.” Kejujuran adalah pondasi. Berbicara dan berlaku benar, meski pahit.

· Qana’ah & Qalbun Salim: “Tak boleh bohong, tapi hati plong.” Inilah puncaknya. Kebahagiaan sejati (sa’adah) lahir dari hati yang selamat, yang ridha dan merasa cukup dengan pemberian-Nya.


INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN


“Namun demikian ini barulah awal…”


Pesan penutup ini adalah pisau bedah yang paling tajam. Ia membedahkan sebuah hakikat: Perjalanan ini tidak pernah berakhir.


Kematangan tertinggi di dunia ini, gelar profesor sekalipun dalam ilmu ruhani, hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang menuju Allah di akhirat nanti. Pencapaian kita di dunia hanyalah terminal, bukan stasiun akhir.


Kita berasal dari Allah (Inna Lillahi), dan kita akan kembali kepada-Nya (wa Inna Ilaihi Roji’un). Kita datang dengan tangan kosong, dan kita akan dihisab berdasarkan seberapa besar kita bisa menjaga hati agar tetap plong—ikhlas, jujur, dan tidak terikat pada dunia.


Maka, saudaraku, bernyanyilah lagu Iwan Fals ini dengan sepenuh hati. Jadilah ia pengingat dalam tasbih harian kita. Karena di dalamnya, tersirat sebuah doa yang paling dalam: “Ya Allah, bimbinglah kami melalui semua tahapan warna kehidupan ini, agar kami kembali kepada-Mu dengan hati yang selamat (Qalbun Salim), dalam keadaan tangan kosong, namun hati kami penuh dengan cinta-Mu.”



Komentar

Postingan Populer