Tarekat Gending: dari nada menjadi dzikir
Kita kerap terbelenggu oleh pikiran bahwa untuk menjadi “intelektual” atau “berbudaya tinggi” harus melalui gerbang-gerbang formal: ijazah, sertifikat, gelar yang berderet. Kita terjebak dalam kesombongan sistem yang menganggap kesenian tradisi hanya sebagai artefak, sebagai barang mati yang pantas diawetkan di museum, atau sekadar pertunjukan untuk memenuhi kuota festival. Lalu, di sebuah sanggar dekat tempat tinggalku, bernama sanggar demes Polokarto, anak-anak muda itu datang bagai angin segar yang menerbangkan semua debu kesombongan itu.
Mereka bukan sedang “melestarikan” budaya dalam pengertian yang mati. Mereka bukan kader-kader yang disiapkan untuk menjadi pajangan di acara-acara kenegaraan. Mereka justru sedang menghidupi budaya itu dengan cara yang paling hakiki: dengan darah, keringat, dan getar jiwa mereka. Ini bukan soal “baik-baik saja”-nya kebudayaan, melainkan sebuah Jalan (thariqah) sunyi, sebuah riyadhah ruhani melawan arus zaman yang menderas.
Lihatlah para sinden cilik itu. Suara mereka belum terkontaminasi oleh teknik vokal yang serba diajarkan, yang serba diukur. Suaranya lurus dari kerongkongan, dari sanubari, bagai air dari mata air pegunungan. Ia tak peduli pada teori pitch yang sempurna. Ini adalah dzikir, sebuah doa dan puji-pujian yang menyelinap di antara riuh gending, memancarkan cahaya (tajalli) keindahan Ilahi. Orang-orang takjub, mencari-cari dari mana suara itu berasal, karena ia bukan sekadar suara, ia adalah wirid yang memanggil ingatan kolektif kita (fitrah) tentang keindahan Yang Haqiqi.
Lalu para pengrawit. Jangan tanya soal partitur yang rumit. Bagi mereka, musik bukanlah notasi yang tercetak di kertas, melainkan aliran percakapan batin dengan sang dalang dan para wayang. Jari-jemari mereka yang lentik memetik dan memukul alat musik bukan berdasarkan hitungan matematis, tetapi berdasarkan "rasa" (dzauq), sebuah kepekaan yang hanya bisa lahir dari olah batin (riyadhah an-nafs) yang panjang. Mereka tidak sekadar berlatih, mereka menghayati. Mereka sedang bercakap-cakap dengan gamelan, menyelaraskan jiwa dengan setiap dentang dan gelegak. Ini adalah praktik dari konsep "Ihsan"—memandang seolah-olah Engkau melihat-Nya, dan jika tidak, maka Dia melihatmu. Setiap nada adalah meditasi dalam kehadiran Ilahi.
Dan si dalang kecil. Di usia yang masih sangat belia, ia sudah menjadi sutradara, narator, pemain drama, dan filsuf, semua dalam satu nafas. Ia adalah cerminan dari "Insan Kamil" (Manusia Sempurna) yang memadukan banyak sifat dalam satu kesatuan. Suaranya berpindah dari suara Arjuna yang halus, ke suara Bima yang bergema, lalu ke Buta Cakil yang serak, dalam sekejap. Tangannya tak henti-henti menggerakkan wayang, sementara pikirannya menyusun narasi, menyelipkan kritik sosial, atau sekadar lelucon. Lakon yang dipagelarkannya adalah simbol dari "Al-Hayah" (Kehidupan) dan perjalanan ruhani (suluk) sang jiwa (an-nafs) menghadapi berbagai ujian, dari yang paling kasar (nafsu ammarah) hingga yang paling luhur (nafsu muthma'innah).
Yang paling menusuk dari semua ini adalah ketika mereka berganti peran. Seorang dalang tadi bisa dengan lincah duduk di balikan gamelan, menjadi pengrawit yang andal. Seorang penabuh kendang bisa naik ke atas balai-balai, memegang cempala dan menjadi dalang. Di sini, tidak ada hierarki. Ini adalah cerminan dari "Fana' fillah"—leburnya ego (ana) dalam kesatuan laku dan tujuan. Tidak ada klaim “aku dalang, posisiku lebih tinggi.” Mereka adalah sebuah komunitas yang saling terhubung, sebuah jemaah yang mengamalkan prinsip "Wahdatul Wujud" (Kesatuan Wujud) dalam bentuknya yang paling sederhana: setiap bagian adalah perwujudan dari satu Jiwa yang sama, dan bisa saling menggantikan. Ini adalah demokrasi spiritual, jauh sebelum demokrasi politik lahir.
Mereka menolak dikerdilkan oleh definisi “intelektual” yang sempit. Bagi mereka, intelektualisme itu ada di ujung jari yang memetik siter, di kerongkongan yang melantunkan suluk, di dalam kepala yang memahami falsafah pewayangan. Ini adalah "Ilmu Laduni"—pengetahuan yang datang langsung dari pancaran Ilahi, bukan dari akal semata. Kelulusan mereka bukan di atas kertas bernilai, tetapi di atas panggung kehidupan, di dalam pengakuan batin bahwa mereka telah menemukan jalan mereka sendiri untuk lebih dekat pada Sang Pencipta. Ini adalah puncak "Ma'rifah" (mengenal Allah) melalui medium keindahan.
Maka, sanggar ini bukan sekadar sanggar. Ini adalah pesantren budaya, sebuah zawiyah di mana tarekatnya adalah seni. Di sini, mereka tidak sekadar belajar menari atau menabuh gamelan. Mereka belajar tentang hidup, tentang perjuangan, tentang ketekunan, dan tentang cara menemukan Tuhannya lewat keindahan.



Komentar
Posting Komentar