Masyarakat kontemporer #1
Ada epidemi di republik ini. Bukan virus yang menyerang paru-paru, tetapi wabah yang menggerogoti akal dan rasa. Manusia-manusia kini membangun monumen untuk dirinya sendiri di tengah puing-puing kebenaran. Mereka menjadi nabi bagi agamanya sendiri, hakim bagi pengadilannya sendiri, dan algojo bagi siapa saja yang berani menyentuh patung emas egonya.
Orang-orang ini bukan sekadar sok tahu. Mereka adalah tukang sulap kebenaran. Di tangan mereka, fakta menjadi balon yang bisa ditiup atau dikempiskan sesuai kepentingan. Moral jadi karet gelang, bisa ditarik ke kiri untuk membenarkan diri, dilepas ke kanan untuk memukul lawan. Mereka adalah para peragu yang paling yakin, dan para pengecut yang paling lantang bersuara.
Mereka adalah pembaca yang rakus, tapi bukan pembelajar. Buku-buku mereka tumpuk bukan untuk mencari cahaya, melainkan untuk membangun tembok. Setiap halaman yang dibaca adalah satu batu bata baru untuk mengurung diri dari kenyataan yang tidak sejalan dengan khayalannya. Mereka pikir mereka intelektual, padahal mereka hanya kuli pikiran—memindahkan argumen dari sana ke sini hanya untuk memenangkan debat, bukan untuk menemukan secercah kebijakan.
Maka krisis kita bukan lagi krisis kebenaran, melainkan krisis kepalang-tangan. Kebenaran sudah patah tangannya, tak lagi bisa menunjuk arah. Yang tersisa hanyalah jari-jari yang melengkung, hanya mampu menunjuk ke dalam, ke arah diri sendiri.
Dan lihatlah, wabah ini sudah merangsek ke dalam ruang-ruang paling suci.
Banyak di antara kita yang sholatnya rapi, tapi batinnya berantakan. Mereka datang kepada Tuhan bukan dengan tangan hampa, melainnya dengan daftar tuntutan. Sholat bukan lagi saat untuk merendah, melainkan pamer spiritual. Mereka bersujud, tapi di dalam hatinya berkata, "Lihatlah Tuhan, betapa solehnya aku. Sekarang Kau harus membenarkan pendapatku, mendukung pilihanku, dan mengutuk orang-orang yang tidak sejalan denganku."
Mereka takut, bukan kepada Kebesaran-Mu, Ya Rabbi. Mereka takut kalau-kalau Engkau ternyata tidak sependapat dengan mereka. Mereka menciptakan "Tuhan versi kuota"—Tuhan yang harus membenarkan segala tindak-tanduknya. Ibadah mereka berubah menjadi proyek pembenaran diri, bukan perjalanan pencarian diri.
Kita berebut gelar "paling islami", sambil menyimpan dengki di dada. Berebut pahala, sikut-sikutan di depan pintu surga. Sholat kita sudah tidak lagi menghadap Kiblat, tetapi sudah menghadap cermin.
Lalu, apa yang tersisa dari bangsa ini ketika kebenaran menjadi barang dagangan di pasar gelap ego?
Kita menjadi kumpulan monolog yang saling berteriak. Setiap orang merasa paling suci, paling benar, paling pintar. Setiap diskusi berubah menjadi medan perang dimana tidak ada yang menang, yang ada hanya korban yang berjatuhan: logika, etika, dan kemanusiaan kita sendiri.
Di mana kita bisa menemukan kembali jalan pulang?
Mungkin jawabannya ada pada kesediaan kita untuk diam. Bukan diam pasif, tetapi diam yang aktif—diam untuk mendengar. Diam untuk merasakan. Diam yang mengosongkan diri, seperti gelas yang harus dikosongkan dulu sebelum bisa diisi air yang jernih.
Kita harus berani mematahkan patung diri kita sendiri. Berani berkata, "Saya tidak tahu." Tiga kata yang paling langka di zaman ini, padahal itulah kunci segala pintu kebijaksanaan.
Mungkin kita perlu belajar lagi dari anak kecil yang belum terkontaminasi epidemi ini. Mereka masih bisa tertawa bersama, meskipun tadi berkelahi berebut mainan. Mereka belum sempat menjadikan kebenaran sebagai senjata.
Atau kita sudah terlalu tua untuk belajar dari anak-anak? Terlalu pintar untuk menjadi bijak? Terlalu sibuk membangun menara ego, sampai lupa bahwa yang kita butuhkan sebenarnya adalah jembatan—jembatan antar hati, jembatan antar rasa, jembatan yang akan menyambung kembali yang putus, dan mempertemukan kembali yang tercerai-berai.
Zaman sedang sakit, kawan. Dan obatnya mungkin justru ada pada luka kita yang paling dalam—pengakuan bahwa kita ini sama-sama pasien, sama-sama butuh penyembuhan, sama-sama hamba yang tersesat di tengah gemerlapnya panggung sandiwara diri.
Mari kita pulang. Sebelum gelap ini menjadi terlalu pekat. Sebelum hati kita menjadi terlalu kaku untuk ditembus oleh cahaya.

Komentar
Posting Komentar