NASIB KAUM TAJRID DAN ASBAB
Kita mulai dari sebuah kitab yang ditulis di abad ke-13, di tengah kekusyukan zaman. Al-Hikam karya Syekh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, kumpulan mutiara hikmah untuk para musafir ruhani. Di situ ada sebuah syahid, saksi mata spiritual, yang bunyinya kira-kira begini: إرادَتُكَ التَّجْريدَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ في الأسْبابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفيَّةِ، وإرادَتُكَ الأَسْبابَ مَعَ إقامَةِ اللهِ إيّاكَ فِي التَّجْريدِ انْحِطاطٌ عَنِ الهِمَّةِ العَلِيَّةِ. “Keinginanmu untuk tajrid (meninggalkan keinginan duniawi, termasuk mencari rezeki padahal Allah telah menetapkan engkau pada asbab (usaha, diman allah telah membekali manusia dengan sarana penghidupan, adalah termasuk dalam bisikan syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk melakukan asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada kedudukan tajrid, adalah something kemerosotan dari himmah (tekad spiritual yang luhur.)” Saya menulis ini dari pinggir kali yang airnya keruh, di tengah bau sampah yang mengendap, sambil mendenga...

